sherlock holmes good movie




satu lagi yang kudu di tonton oleh manusia berkualitas di indonesia..sherlock holmes
mantab lah,,action campur trik dan comedy membuat segar film yang diperankan robert downey sebagai holmes yang mempesona dengan kepintaran memecahkan kasus..pokoknya rekomendasiin untuk nonton film ini....

liputan RS.Omni cabut tuntutan pertada, M-5


RS.Omni cabut perdata, Prita harap cabut pidananya juga

Tangerang,setelah publik bergerak dengan mengumpulkan koin untuk prita, akhirnya RS Omni Internasional terketuk hati untuk mencabut gugatan perdatanya dipengadilan tangerang, pencabutan laporan ini sekaligus menghilangkan ganti rugi sebesar Rp 204 jt yang diputuskan pengadilan tinggi Banten atas Prita.
Selain itu Prita tidak perlu meminta maaf di media atas pencemaran nama baik RS.Omni

meski demikian penggitungan koin (14/12) akan berjalan dan tetap diserahkan pada prita, jumlah koin akan dihitung pagi ini di Jl Langsat, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
namun arus sumbangan berbentuk koin masih tetap mengalir dari penjuru Indonesia walaupun pos pengumpulan koin prita telah resmi ditutup jumat (11/12).

hal ini disambut baik kalangan Masyarakat, namun Prita tetap berharap selain tuntutan perdata yang hapus, tuntutan pidananya pun perlu diperhatikan, karena hal ini masih tetap satu kesatuan.nabilla

liputan patung Obama kecil di menteng, M-5


Pro dan Kontra Patung Obama kecil

Menteng, Patung obama kecil diresmikan, Patung seharga 100 jt rupiah itu dihadiri surya paloh , walikota jakarta pusat silviana murni dan beberapa donatur lainnya , tinggi patung obama kecil itu 110 cm dan berat 30 kg,dan ditempatkan ditaman menteng jakarta pusat.

pembangunan patung buatan edi chaniago ini tidak mengandung unsur politik melainkan sebagai inspirasi bagi anak-anak bangsa.

menurut Sejarahwan Anhar Gonggong apa tidak berlebihan membuat patung Obama berumur 6 tahun yang saat itu belum memberikan kontribusi bagi negara, "Pikiran kita aneh, kenapa mesti Obama yang dipatungkan di sini? Saya bukan menolak itu. Tapi sebagai warga negara saya bertanya untuk apa patung itu. Ok-lah Obama pernah sekolah di sini. Apa karena pernah sekolah di sini lalu Obama didewakan di Indonesia?"

"Kalau dihargai orang hebat kita ada sekian ratus pahlawan nasional Seharusnya dirikan patung di sekolahnya saja sebagai tanda dia ada, karena Obama bukan lah bagian Indonesia" tandasnya.
nabilla

liputan buediono kantor antara , M-5


Boediono mengharapkan berita yang seimbang, didukung menkominfo

JAKARTA, boediono mengharapkan kesinergian pada media pendapat tersebut didukung oleh menkominfo Tifatul, saat ditemui dikesempatan yang sama, pemberitaan yang akhir-akhir ini yang menyudutkan Boediono dan Sri mulyani dianggap kurang berimbang.

"Kita punya RRI, TVRI, dan Antara. Perlu ada sinergi," kata Boediono saat memberikan sambutan di acara peringatan ulang tahun Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara di Wisma Antara, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (14/12/2009).

Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) Tifatul Sembiring setuju pada pendapat Wapres Boediono yang menilai media sekarang kurang menampilkan berita yang berimbang. Tifatul meminta agar keseimbangan pemberitaan perlu ditingkatkan.

Hal ini dikatakan Tifatul Sembiring ketika dimintai keterangan oleh wartawan usai menghadiri peringatan ulang tahun LKBN Antara di Wisma Antara, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (14/12/2009).nabilla

liputan jalan berlubang kramat jati, M-5


JALAN BERLUBANG,RAWAN KECELAKAAN

JAKARTA,Ruas jalan kramat jati kembali rusak tepat setelah carefourr Kramat jati, hal ini dikeluhkan warga sekitar termasuk penjual kaki lima yang berada di sejajaran pasar kramat jati, ukuran dan diameter jalan yang rusak memang tidak terlalu besar namun kedalamannya cukup parah sehingga mengganggu pengguna jalan terutama pengguna sepeda motor.

menurut isma warga sekitar keramat jati, "jalanan ini jadi rawan kecelakaan, meskipun sering macet tapi tak jarang motor kebut-kebutan dimalam hari dan tidak melihat aspal yang bolong-bolong tersebut", hal ini dipun dikeluhkan pengguna sepeda motor yang sore itu (15/12) melewati ruas jalan berlubang,"saya hampir jatuh, karena jalanan ini" tandas pak sofyan.

Masyarakat berharap pemda memperhatikan ruas jalan-jalan yang mengalami kerusakan karena beresiko rawan kecelakaan.nabilla

best friend...


kami ber 6 bersahabat dekat meski baru mengenal satu dengan yang lain saat memasuki bangku kuliah..aku, stella, echa, mpis, arya, angga, dan vena...cukup banyak waktu yang kami lewati bersama,,sebenernya dulu kami lebih dari ber6 dan menamakan diri THE LAYDIES sampe bikin kaos segala loh..ada okna,mala, heidi, ayu dan masih banyak lagi (aku lupa)...mungkin karena seleksi dunia kampus yang begitu ketat dan pergaulan yang semakin berkembang kali ya, maka satu persatu berguguran, jadi tinggal 6 orang yang selalu bersama...

cuma mau sedikit narsis ya...meski kami tidak terlalu terlihat pintar dan sama seperti mahasiswi kebanyakan namun kami dikampus adalah trend dalam pelajaran..contoh :kebanyakan saat mengerjakan tugas, kuis atau apapun yang diberikan dosen pasti sekelas minta bantuan kami, entah kenapa mereka selalu menanyakan pendapat kami...

adapun kami selalu dimintai tolong berpendapat tentang pakaian, make up, referensi majalah, dan absensi...yang terakhir suka gak enak ujungnya tuh,, sedikit memanfaatkan kebaikan yang meliputi jiwa-jiwa gadis seperti kami.

dunia perkuliahan adalah dunia berbeda dari masa-masa sebelumnya, cerita tentang gayanya jadi mahasiswi membuat kami merasa PD dengan title mahasiswi moestopo...walau kami mengakui seluk beluk dunia kampus yang kata orang individualis, namun kami merasa tetap berbeda dibanding teman-teman kami yang mengalami transisi SMA ke kampus...mungkin karena persahabatan yangcukup erat sehingga sikap saat masa SMA tetap terbawa , contoh :saling mengingatkan kalau ada tugas, patungan buat beliin kado temen yg ultah, wajib traktir klo ultah, selalu berjalan bersama, kadang (dulu) masih awal masuk kampus malu masuk sendiri, pete-pete kalo temen gak punya duit (diperuntukan untuk gw)dan masih banyak lagi.

tapi hal-hal sepele itu yang membuat kami semakin dekat, meski aku akui bahwa akhir-akhir ini karena harus terpisah karena jurusan yang berbeda kami jadi jarang bertemu, sesekali kami sempatkan saling berbincang atau hanya sekedar makan dan nonton...

kedewasaan tetap lah kedewasaan ...begitu pula kami, meski aku pribadi tidak ingin terpisah dengan masa ini, namun jam terus berputar dan kami akan menyongsong dunia baru yakni dunia pekerjaan...
semua itu membuatku senang campur kangen dengan hal-hal konyol yang dulu pernah kami lewati bersama.

huah...kebanyakan cerita, pasti pengen tau kan karakter seperti apa yang dimiliki masing-masing the ladyes ini.(menurut versi nabilla, jadi jangan ada yg protes)

stella : wanita gesit yang berisi namun kegesitannya membuat riweh atau ribet dirinya sendiri dan orang lain, dan sedikit pemarah dipanggil 'mam' sama yang lain.selektif dalam bertindak, pendengar yang baik

vena : wanita uptodate (segala informasi apapun itu dia pasti tau) mata elang (widih klo ada cwo langsung nengok otomatis, tapi gak dinikmati sendiri, pasti dia manggil yang lain buat sam2 ngeliatin tu cwo ganteng) dan memiliki tipikal badan yang ramping..

echa :terlihat seperti alisa subandono hahahaha...bae orangnya, gak enakan ama orang, lebih berfikir dewasa aja..sebagai bukti dia lebih toku (pikirannya) dia sudah menyelesaikan sidang PKLnya..punya cita2 cepet kerja biar bisa bantu ortunya.

mpis :wanita polos yang katanya belum ...........dari lahir(sori disensor takut orangnya marah), mungkin yang patut dilindungi dan di bimbing adalah mpis oleh yang lain karena kebocahannya mengkhawatirkan takut di bego2in orang lain...care bet

angga : wanita berkerudung yang baik hati walau terkadang omongan nya yang saiko membuat kami takut tapi she is smart..peduli, namun jalannya lambat (pasangan dah sama mpis)

arya : kalau yang satu ini gak usah di ceritain dah...hehehehehe bcanda deng arya ku sayang, ni anak tahan banting banget, rame, heboh, suara kaya toa, wah klo ada dia bisa ketawa2 sekaligus malu abis klo ngomong geda banget ..sekampus bisa denger dah..

yup yup yup...itu lah sedikit karakter temen-teman aku yang seru-seru...dunia remaja, masa muda, have fun namun tetep positif, aku gak tau deh klo gak ada mereka mungkin dunia 'mahasiswiku' akan lurus-lurus aja,,gak ada grafik kebahagiaan..thx my friend...i love u all

ini yang disebut sahabat gak pernah pamrih

liputan bandung PT.primajasa peduli pendidikan 13/12


Bandung,minggu (13/12) PT.Primajasa sebagai angkutan umum antar kota antar propinsi penyelenggara peduli pendidikan terhadap siswa siswi tingkatan TK, SMP, SMU setingkat, dan Universitas yang terdiri dari 60% karyawan dan 40% masyarakat umum wilayah jawa barat, dari beberapa tingkatan diketahui hanya universitas yang bersyaratkan Universitas Negri dan memiliki IPK 3,25.Sedangkan tingkatan lainnya diseleksi menurut tingkat indeks prestasi siswa siswi nya.

menurut H.Amir Mahfud selaku direktur PT.Primajasa beasiswa kali ini diberikan pada kurang lebih 500 siswa yang berada di 3 propinsi yakni DKI, Banten, Jawa Barat.Dan dana yang disediakan untuk beasiswa mencapai 1 miliar yang bersumber dari keuntungan Primajasa dan juga beberapa sponsor yang mendukung terselenggaranya acara.

acara yang diselenggarakan di gedung Sabuga (Sasana Budaya Ganesha) JL.taman sari no 73 bandung ini dihadiri wakil mentri perhubungan Bambang S.dalam kesempatan sambutanya beliau menyampaikan pentingnya kepedulian sesama yang tergagas dari perusahaan angkutan umum swasta sebagai contoh untuk perusahaan angkutan lainnya.

PT.Primajasa sendiri hadir sejak tahun 1991 dibawah naungan PT.Mayasari group dan sudah 18 tahun memberikan besiswa kepada tunas bangsa yang berprestasi meski dulu dalam sekala kecil.perusahaan yang memiliki 1000 unit bus yang tersebar di 50 depo ini merencanakan perbaikan pelayanan terutama saat menjelang libur nasional 2010, mengingat jumlah penumpang yang selalu bertambah setiap tahunnya.

Hadir wajah muda di perusahaan swasta ini, Mahasiswa SBM ITB sebagai president PT. Primajasa Foundation, Tiar Nabila (19), harapannya untuk kedepan kegiatan sosial masyarakat seperti ini menjadikan motivasi bagi penerima besiswa agar lebih berprestasi dan bermanfaat untuk masyarakat keseluruhan pada umumnya, dan para karyawan PT.Primajasa pada khususnya.(nabilla)

liputan tgl 10/12 walikota depok


Jamkesmas sudah tidak berfungsi lagi

Depok, Kamis10/12 ,Rakyat miskin kota depok yang di motori DKR (Dewan Kesehatan Rakyat) datang bersama massanya yang mayoritas ibu-ibu dan anak-anak ke kantor walikota, dengan 4 tuntutan yakni 1. menolak penggatian jamkesmas dengan sistem yang lain (asuransi) 2.mendukung jamkesda sama dengan jamkesmas 3.pemkot depok segera melunasi hutang kepada rumah sakit –rumah sakit 4.10% minimal anggaran APBD kota depok untuk kesehatan (porsi lebih besar buat SKTM)

Menurut Roy pangharapan (ketua DKR kota depok)apabila dibiarkan jamkesmas diganti dengan asuransi maka raykat miskin kota depok sulit untuk mendapatkan tindakan medis yang layak, karena mereka akan dikenakan biaya Rp 4000/ kepala,hal ini sangat disayangkan, apa lagi dengan hadirnya jamkesda yang hanya mencakup wilayah daerah saja.Namun DKR tidak menolak adanya jamkesda selama masih sama dengan jamkesmas.

Ada pun SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) yang diberikan pada warga miskin namun hanya menanggung 20% sampai 70% saja, bila dicermati 30% sisa dari tunjangan yang diberikan masih belum mampu ditutupi oleh pemegang kartu karena mahalnya biaya pengobatan saat ini.

Status jamkesmas saat ini memang masih diberlakukan. Beberapa pengguna jamkesmas pun mengeluhkan rumah sakit yang menolak keberadaan mereka dengan alasan pemeritahan kota depok belum melunasi biaya rumah sakit.

Dalam hal ini DKR ingin langsung menyuarakan 4 tuntutannya ke Bapak Walikota langsung namun beliau tidak ada ditempat, merekan pun menyesali hal tersebut karena yang dapat memutuskan masalah ini adalah pemimpin Kota depok itu sendiri, dan demonstrasi pun berlanjut mengarah ke DPRD dengan tuntutan yang sama.nabilla

dimuat di poskota tanggal 11 desember 2009, rubrik megapolitan

 

awalnya cuma coba-coba


wah surprice sekali hari ini...aku preper lamaran ke dua media massa jakarta, namun aku lebih yakin pada salah satu media saja karena itu adalah rekomendasi dari dosenku,

aku yang mulanya mengenal bang rizal (wartawan senior poskota) lalu kami sempat tukeran nomer dan fb sampai akhirnya aku putuskan untuk melamar ke poskota..namun keinginan itu tidak sebesar , harapan diterima juga tidak tinggi karena aku tau poskota bukan sembarang media,

namun hari ini aku yang telam mempersiapkan surat lamaran dan tektek bengeknya, mengantarkan sendiri durat lamaran ke kantor redaksi poskota jl gajah mada jakarta, aku bertemu pak soesilo yang nota bene adalah sekertaris direksi poskota juga teman dari bang rizal siregar, aku tidak tau pengaruh besar apa nama bang rizal sehingga ketika aku bilang aku adalah rekomendasi dia maka aku dipersilahkan masuk juga langsung diinterview , akhirnya putusan mereka aku disuruh menghubungi bang nasrul pemegang wilayah depok bangian kriminal; aku bahkan ditanya kapan mau mulai kerja, sampai ditanyakan hari apa yang tidak mengganggu kuliahku..wah enak sekali yak...

di poskota aku tidak perlu datang untuk memberikan tulisanku ,aku cukup mengirimkannya lewat email,,aku sangat senang hari ini,, impianku tercapai dan aku tidak sabar menunggu perintah reportase selanjutnya....

foto2 waria taman lawang pas reportase malam



 
ini foto2 kemaren waria taman lawang yang kemaren mau diupload...namanya tasya,,"kaki jenjang si jantan"

dorroty millis, good movie tapi mesti dianalisis terus



film tentang kejiwaan seseorang, kepribadian ganda atau semacamnya, mantab, tapi mesti dianalisis terus dan jangan ada bagian yang terlewatkan ntar bingung kesananya...

dead line, pusing eum..kurang ngerti



duh ni film puyeng eum jelasinnya...pokoknya nonton aja, memang sedikit membosankan, tapi buat para pemikir lebih tepat nonton ginian, ntar kalo dah pada nonton kasih tau gw maksud jalan ceritanya gimana ya..hehehe

dead snow, good movie



comedy dead movie... hahaha.. darah semua isinya, tapi tetep ada aja banyolan dari si korban, film jerman ini menjadi box office di negrinya,, mantab lah pokoknya, gw rekomendasiin untuk nonton juga ni film

a million, good movie




yang ini satu lagi film mantab, dari korea... 8 orang harus bertahan dalam hutan di acara survival dan memperebutkan 10 miliar, namun semua harus mati dan hanya menyisakan 1 orang pemenang, ternyata mereka bukan kebetulan ada di acara tersebut...kenapa mereka direkrut untuk ikut acara yang mengorbakan banyak nyawa...nonton dong

carriers, good movie



 firus melanda amerika dan masing-msing kelompok harus mempertahankan diri sendiri, peraturan adalah peraturan, agar tidak menyebar orang terkasih pun harus ditinggalkan,tujuan mereka hanyalah pantai yang terpencil, akan kagh kelompok ini berhasil mencapai tujuannya

long weekend, good movie



widih ini i film keren satu lagi,, saat bermusuhan engan alam maka alampun akan murka,
pasangan yang merencanakan liburan di pantai pribadi dengan teman-temannya namun karena suatu hal teman2nya menyusul, apa yang terjadi pada mereka hanya berputar-putar di satu wilayang yang tanpa penghuni konflik pun terjadi hingga mereka tidak lagi harmonis dan terus saling membenci, sampai dihari berikutnya merekapun memutuskan untuk pulang dan mereka pun tidak pernah bisa pulang

dosen pemegang otorita tertinggi dikelas,what?


nilai produksi radio ku hanya 64 saja padahal ketika ujian itu dimulai aku merasa yakin dengan seluruh jawabanku, tapi kenapa hasil yang didapat cuma segitu saja, saat masuk kelas setelah ujian kutanyakan hal tersebut ke dosan radio ku, aku meminta kertas ujian dibagikan

tau apa yang terjadi , dosenku tersebut menolak permintaanku, dia bilang "kamu boleh liat kertas hasil ujianmu, tapi nilai kamu harus dikurang", bila nilai mu nanti lebih tinggi dari yang ditulis tetap nilaimu akan saya kurangi, lalu aku pun bertanya "kenapa pak?", "karena kamu sudah tidak percaya lagi sama saya", (ada faktor ketidak percayaan) jawaban yang tidak pantas diucapkan oleh seorang dosen yang notabene contoh untuk mahasiswanya.

secara logika jawaban yang ada di kertas ujian ada alah tulisan saya ebagai mahasiswa dan saya berhak melihat tulisan saya, sebagai bentuk koreksi bukan berarti tidak mempercayai cara kerja koreksi dosen tersebuk, karena tidak  ada satupun manusia yang sempurna dan tidak melakukan kesalahan,

penolakan pun semakin gencar ditumpahkan didepan mukaku, ada sekitar 25 menit aku berdiri didepan dosen sambil mempertanyakan tindakan dosenku  tersebut, ia malah berkata" kamu cuma mahasiswa, saya memiliki otoritas tinggi dikelas bukan kamu"

kata-yang sangat sombong berbanding terbalik dengan icon pengajar yang mengayomi muridnya
memang tidak semua dosen seperti aia , cuma saya tidak habis pikir kenapa tranparansi dan demokratis dalam penilaian tidak ada dibenak dosen yang satu ini, lagi pula ini bukan sekolah lagi yang dimana murid akan selalu didikte pengajarnya , ini kampus dan mahasiswa sudah dewasa!!
peluang kolusi dan nepotisme semakin besar bila semua pengajar berpikir sama seperti dosen radioku

makna profesi wartawan dan kode etika jurnalistik part 2


Untuk dapat menjalani profesi wartawan yang benar, serius, sungguh-sungguh, Anda harus memenuhi tiga hal. Bolehlah kita sebut sebagai "trilogi jurnalisme". Pertama, Anda harus profesional. Bukan hanya wartawan, semua profesi, jabatan, pekerjaan, sesungguhnya harus dikerjakan secara profesional. Wartawan yang profesional ialah yang memahami tugasnya, yang memiliki skill (ketrampilan), seperti melakukan reportase, wawancara, dan menulis berita atau feature yang bagus dan akurat, dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Jika Anda tidak mampu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, bisa disebut tidak profesional.

Tapi, profesional saja tidaklah cukup. Anda harus mengenal apa yang disebut integritas, kejujuran, dalam pengertian bahwa sebagai wartawan Anda harus jujur (dan paham) terhadap profesi, menyadari jati diri Anda sebagai kepanjangan tangan dari aspirasi publik, kepada siapa Anda seharusnya bertanggung jawab secara moral. Profesional dan punya integritas belum lengkap jika Anda tidak memiliki sikap independen, sebagai bagian yang integral dari "trilogi jurnalisme," yaitu profesional, integritas dan independen, tidak berpihak, obyektif, dan hanya berpihak atau bertanggung jawab kepada publik.

Karena bertanggung jawab kepada publik, dan oleh karena itu harus independen, maka jadilah pers dan dengan demikian juga wartawan merupakan the fourth estate (pilar keempat) dalam negara yang menganut sistem demokrasi selain eksekutif, legislatif dan yudikatif. Jika pilar demokrasi ciptaan Jean Jacques Rousseau yang disebut trias politica itu saling mengontrol satu sama lain, sehingga terjadi check and balance, maka pers sebagai pilar keempat berperan sebagai "anjing penjaga" (watch dog) agar check and balances dalam sistem demokrasi itu berjalan dengan seharusnya.



KODE ETIK JURNALISTIK
HASIL KONGRES XXII
Nangroe Aceh Darusalam, 28-29 Juli 2008

(Draft awal adalah keputusan Konkernas PWI 4 – 10 Juli 2007 di Jayapura, Papua).


PEMBUKAAN Bahwa sesungguhnya salah satu perwujudan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah kemerdekaan mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan sebagaimana diamanatkan oleh pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945. Oleh sebab itu kemerdekaan pers wajib dihormati oleh semua pihak.


Mengingat Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara berda¬sarkan atas hukum, seluruh wartawan Indonesia menjun¬jung tinggi konstitusi dan menegakkan kemerdekaan pers yang bertanggung jawab, mematuhi norma-norma profesi kewartawanan, memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa, serta memperjuangkan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial berdasar¬kan Pancasila.


Maka atas dasar itu, demi tegaknya harkat, martabat, integritas, dan mutu kewartawanan Indonesia serta bertumpu pada kepercayaan masyarakat, dengan ini Persatuan Wartawan Indonesia(PWI) menetapkan Kode Etik Jurnalistik yang harus ditaati dan dilaksanakan oleh seluruh wartawan Indonesia. 

BAB I
KEPRIBADIAN DAN INTEGRITAS

Pasal 1
Wartawan Indonesia beriman dan bertaqwa kepada tuhan Yang Maha Esa, berjiwa Pancasila, taat kepada undang-undang Dasar Negara RI, kesatria, menjunjung harkat, martabat manusia dan lingkungannya, mengabdi kepada kepentingan bangsa dan negara serta terpercaya dalam mengemban profesinya.
Pasal 2
Wartawan Indonesia dengan penuh rasa tanggung jawab dan bijaksana mempertimbangkan patut tidaknya menyiarkan karya jurnalistik (tulisan, suara, serta suara dan gambar) yang dapat membahayakan keselamatan dan keamanan negara, persatuan dan kesatuan bangsa, menyinggung perasaan agama, kepercayaan atau keyakinan suatu golongan yang dilindungi oleh undang-undang.
Pasal 3
Wartawan Indonesia pantang menyiarkan karya jurnallistik (tulisan, suara, serta suara dan gambar) yang menyesatkan memutar balikkan fakta, bersifat fitnah, cabul serta sensasional.
Pasal 4
Wartawan Indonesia menolak imbalan yang dapat mempengaruhi obyektivitas pemberitaan.

BAB II
CARA PEMBERITAAN DAN MENYATAKAN PENDAPAT

Pasal 5
Wartawan Indonesia menyajikan berita secara berimbang dan adil, mengutamakan kecermatan dari kecepatan serta tidak mencampur adukkan fakta dan opini sendiri. Karya jurnalistik berisi interpretasi dan opini wartawan, agar disajikan dengan menggunakan nama jelas penulisnya.
Pasal 6
Wartawan Indonesia menghormati dan menjunjung tinggi kehidupan pribadi dengan tidak menyiarkan karya jurnalistik (tulisan, suara, serta suara dan gambar) yang merugikan nama baik seseorang, kecuali menyangkut kepentingan umum.
Pasal 7
Wartawan Indonesia dalam memberitakan peristiwa yang diduga menyangkut pelanggaran hukum atau proses peradilan harus menghormati asas praduga tak bersalah, prinsip adil, jujur, dan penyajian yang berimbang.
Pasal 8
Wartawan Indonesia dalam memberitakan kejahatan susila (asusila) tidak merugikan pihak korban.

BAB III
SUMBER BERITA

Wartawan Indonesia menempuh cara yang sopan dan terhormat untuk memperoleh bahan karya jurnalistik (tulisan, suara, serta suara dan gambar) dan selalu menyatakan identitasnya kepada sumber berita.
Pasal 10
Wartawan Indonesia dengan kesadaran sendiri secepatnya mencabut atau meralat setiap pemberitaan yang kemudian ternyata tidak akurat, dan memberi kesempatan hak jawab secara proporsional kepada sumber atau obyek berita.
Pasal 11
Wartawan Indonesia meneliti kebenaran bahan berita dan memperhatikan kredibilitas serta kompetensi sumber berita.
Pasal 12
Wartawan Indonesia tidak melakukan tindakan plagiat, tidak mengutip karya jurnalistik tanpa menyebut sumbernya.
Pasal 13
Wartawan Indonesia harus menyebut sumber berita, kecuali atas permintaan yang bersangkutan untuk tidak disebut nama dan identitasnya sepanjang menyangkut fakta dan data bukan opini.
Apabila nama dan identitas sumber berita tidak disebutkan, segala tanggung jawab ada pada wartawan yang bersangkutan.
Pasal 14
Wartawan Indonesia menghormati ketentuan embargo, bahan latar belakang, dan tidak menyiarkan informasi yang oleh sumber berita tidak dimaksudkan sebagai bahan berita serta tidak menyiarkan keterangan "off the record".


BAB IV
KEKUATAN KODE ETIK JURNALISTIK

Pasal 15
Wartawan Indonesia harus dengan sungguh-sungguh menghayati dan mengamalkan Kode Etik Jurnalistik PWI (KEJ-PWI) dalam melaksanakan profesinya.
Pasal 16
Wartawan Indonesia menyadari sepenuhnya bahawa penaatan Kode Etik Jurnalistik ini terutama berada pada hati nurani masing-masing.
Pasal 17
Wartawan Indonesia mengakui bahwa pengawasan dan penetapan sanksi atas pelanggaran Kode Etik Jurnalistik ini adalah sepenuhnya hak organisasi dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan dilaksanakan oleh Dewan Kehormatan PWI.
Tidak satu pihakpun di luar PWI yang dapat mengambil tindakan terhadap wartawan Indonesia dan atau medianya berdasarkan pasal-pasal dalam Kode Etik Jurnalistik ini

kesimpulan
bahwa sesungguhnya siapa saja bisa menjadi wartawan, profesi yang luas dilakukan warga sipil sebagai penyambung informasi namun sama seperti sebuah negara yang membutuhkan undang-udang makan wartawan juga memerlukan kote etik jurnalistik.berfungsi sebagai patokan dalam menjalani profesinya



makna profesi wartawan dan kode etika jurnalistik part 1


Standar pokok seorang wartawan
Ada yang bertanya, sekarang banyak wartawan asal tulis atau tulisannya tidak akurat. Salah satunya karena banyak media yang tidak selektif dalam merekrut wartawan. Yang jadi pertanyaan: standar profesi wartawan itu apa saja?
Memang, menjadi wartawan, apalagi membuat koran, tidak bisa “asal jadi” atau “asal terbit”. Seorang wartawan andal dan profesional mesti memiliki tiga kriteria berikut ini. Sebuah penerbitan pers juga hendaknya hanya merekrut wartawan yang memiliki kualifikasi tiga hal berikut ini.

Pertama, menguasai keterampilan jurnalistik.

Seorang wartawan mesti memiliki keahlian (expertise) menulis berita sesuai kaidah-kaidah jurnalistik. Ia harus menguasai teknik menulis berita, juga feature dan artikel. Untuk itu, seorang wartawan mestilah orang yang setidaknya pernah mengikuti pelatihan dasar jurnalistik. Ia harus well trained, terlatih dengan baik.
Keterampilan jurnalistik meliputi antara lain teknik pencarian berita dan penulisannya, di samping pemahaman yang baik tentang makna sebuah berita. Ia harus memahami apa itu berita, nilai berita, macam-macam berita, bagaimana mencarinya, dan kaidah umum penulisan berita.
Kedua, menguasai bidang liputan (beat).
Idealnya, wartawan menjadi seorang “generalis”, memahami dan menguasai segala hal, sehingga mampu menulis dengan baik dan cermat apa saja. Namun, yang terpenting ia harus menguasai bidang liputan dengan baik. Wartawan olahraga harus menguasai istilah-istilah atau bahasa dunia olahraga. Wartawan ekonomi harus memahami teori-teori dan istilah ekonomi. Demikian seterusnya.
Jika Anda seorang lulusan jurusan ekonomi, lalu ditugaskan meliput peristiwa olahraga, maka langkah pertama adalah mengenali dan mempelajari dunia olahraga, juga istilah-istilah yang berlaku di dunia itu. Jika Anda tidak menguasai masalah hukum, jangan dulu maju meliput kegiatan di pengadilan sebelum Anda memahami –paling tidak– istilah-istilah hukum. Jika memaksakan diri, kemungkinan Anda akan salah tulis, salah tangkap, alias tidak cermat dalam menulis berita.
Jika Anda akan menulis berita keagamaan (Islam), kuasai dulu istilah-istilah Islam. Jangan sampai Anda –sekadar contoh– menulis “Saw” di belakang “Allah” dan “SWT” di belakang “Nabi Muhammad”.
Ketiga, memahami serta mematuhi etika jurnalistik.
Wartawan yang baik (baca: profesional) memegang teguh etika jurnalistik. Istilah Islamnya, harus seorang yang berakhlaqul karimah sesuai nilai-nilai Islam.
Untuk wartawan Indonesia, etika itu terangkum dalam Kode Etik Wartawan Indonesia (KEWI) yang sudah ditetapkan Dewan Pers sebagai Kode Etik Jurnalistik bagi para wartawan di Indonesia. Kepatuhan pada kode etik merupakan salah satu ciri profesionalisme, di samping keahlian, keterikatan, dan kebebasan.
Dengan pedoman kode etik itu, seorang wartawan tidak akan mencampuradukkan antara fakta dan opini dalam menulis berita; tidak akan menulis berita fitnah, sadis, dan cabul; tidak akan “menggadaikan kebebasannya” dengan menerima amplop; hanya menginformasikan yang benar atau faktual; dan sebagainya.

Kebebasan pers
Kebebasan pers adalah bagian dari hak asasi manusia. UUD 45 pasal 28 berbunyi: “Setiap orang berhak berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.” Jadi pengertiannya luas sekali. Meski begitu kita juga pernah mengalami penindasan, kecurigaan, dan alasan-alasan lain yang terlalu jelas. Intinya: pers dibungkam. Jadi isunya adalah soal kebebasan pers dan mendapatkan informasi. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan kebebasan pers dan mendapatkan informasi itu?

Dalam kondisi seperti itulah dibutuhkan pers yang secara bebas dapat mewakili publik untuk mengakses informasi. Dari sinilah bermula apa yang disebut “pers bebas” (free press) atau “kebebasan pers” (freedom of the press) sebagai syarat mutlak bagi sebuah negara yang demokratis dan terbuka. Begitu pentingnya freedom of the press tersebut, sehingga Thomas Jefferson, presiden ketiga Amerika Serikat (1743 – 1826), pada tahun 1802 menulis, “Seandainya saya diminta memutuskan antara pemerintah tanpa pers, atau pers tanpa pemerintah, maka tanpa ragu sedikit pun saya akan memilih yang kedua.” Padahal, selama memerintah ia tak jarang mendapat perlakuan buruk dari pers AS

Untuk pertama kalinya dalam sejarah pers Indonesia, kebebasan pers baru diakui secara konstitusional setelah 54 tahun Indonesia merdeka secara politik, yaitu dalam UU Nomor 40/1999 tentang Pers. Meskipun demikian, pengertian kebebasan pers belum dimengerti secara merata oleh publik Indonesia. Bahkan para pejabat dan kalangan pers sendiri pun – yang mestinya lebih mengerti – masih ada yang kurang faham mengenai makna dan pengertrian kebebasan pers yang sesungguhnya. Oleh karena mengemban tugas luhur dan mulia itulah, pers yang bebas juga harus memiliki tanggung jawab – yang dirumuskan dalam naskah Kode Etik Jurnalistik atau Kode Etik Wartawan Indonesia sebagai “bebas dan bertanggung jawab.” Belakangan, pengertian “bebas” menjadi kabur – terutama di zaman pemerintahan Presiden Soeharto — gara-gara sikap pemerintah yang sangat represif, sementara pengertian “bertanggung jawab” dimaknai sebagai “bertanggung jawab kepada pemerintah.” Padahal, yang dimaksud dengan bebas ialah bebas dalam mengakses informasi yang terbuka; sementara yang dimaksud dengan bertanggung jawab ialah bertangung jawab kepada publik, kebenaran, hukum, common sense, akal sehat.

Sayang, belakangan pers sendiri kurang memahami makna “kebebasan pers” sehingga sebagian di antara ribuan penerbitan (yang sudah tak lagi memerlukan izin terbit itu!) tidak lagi berperan sebagai pers yang bertanggung jawab. Ada pers yang bekerja serampangan, mulai dari praktik peliputan di lapangan, pengemasan berita, sampai pengelolaan manajemennya. Di lain pihak, publik yang menyadari akan hak-hak sipilnya mulai berani menyuarakan aspirasi mereka, termasuk memprotes, menggugat (dengan cara yang tidak semestinya – bahkan main hakim sendiri), bahkan meneror wartawan dan kantor media pers. Ini semua adalah dampak dari reformasi, ketika (sebagian) masyarakat mulai terbuka dan menyadari akan hak-hak sipilnya.

  Jika kita mengidam-idamkan sebuah pers yang ideal, bagaimanakah seharusnya jati diri seorang wartawan? Meskipun wartawan boleh dikata merupakan profesi terbuka, wartawan yang baik ialah yang   memahami perannya sebagaimana telah kita singgung di bagian awal makalah ini, bahwa dia adalah kepanjangan tangan atau penyambung lidah publik. Oleh karena ia mendapat amanat publik sehingga mendapat kesempatan untuk mengakses informasi secara bebas (dalam iklim pers bebas) maka ia harus bertanggung jawab kepada publik, kepada kebenaran, keadilan, kejujuran, common sense, akal sehat. Ia harus benar-benar profesional, sedapat mungkin independen, memiliki integritas yang tinggi – dan jangan lupa: berpihak kepada mereka yang lemah.
 Dalam mengakses informasi ia harus obyektif, mendalaminya dari berbagai sudut yang memungkinkan, sehingga dapat memperoleh atau menggambarkan sebuah kasus secara lengkap, akurat dan obyektif. Lepas dari apakah dia mendapat gaji besar atau kecil, wartawan yang baik seharusnya profesional, independen, memiliki integritas yang tinggi. Cuma sayang sekali, banyak perusahaan pers yang “tidak sempat” menyelenggarakan inhouse training bagi wartawan dan redakturnya. Celakanya, ada juga (sebagian) wartawan yang tak mampu menulis berita yang baik. Bahkan ada yang tak faham persyaratan berita yang klasik: 5-W (who, what, when, where, why) dan 1-H (how).
Ia juga tak canggung menulis berbagai jenis berita, mulai dari straight news, breaking news sampai feature. Dengan kata lain, skill (kemampuan, keterampilan) maupun personal quality ataupun integritasnya benar-benar mumpuni. Lebih dari itu, ia punya the nose of news (kemampuan mengendus jenis berita), mana berita yang biasa-biasa saja, dan mana berita yang layak dimuat, atau bahkan eksklusif. Ia mampu melihat dengan jeli apa yang disebut news value – sebagaimana kata Charles A. Dana (1882) lebih seabad silam, “When a dog bite a man that is not a news, but when a man bites a dog that is a news” (Jika ada seokor anjing menggigit orang hal itu bukanlah berita, tapi jika ada orang menggigit anjing hal itu baru berita). Selain itu, ia mampu pula menembus sumber berita, tidak hanya melakukan wawancara yang lazim, melainkan juga mampu melakukan investigative reporting – kemudian menyajikannya sebagai feature yang mendalam, indeph reporting, indeph feature..
 Kualitas kepribadian wartawan seperti itu berbanding terbalik dengan mereka yang lazim disebut sebagai “wartawan bodreks”, “wartawan amplop,” “wartawan gadungan”, “wartawan muntaber alias muncul tanpa berita”, WTS (wartawan tanpa surat kabar). Jenis “wartawan yang tersebut belakangan itu harus diwaspadai karena mereka bukanlah wartawan yang sebenarnya. Mereka sering minta uang (bahkan berani memeras) nara sumber. Tapi di lain pihak, inilah repotnya, juga ada nara sumber yang memberi “amplop” kepada wartawan – karena diminta, karena ingin agar namanya jangan dicemarkan, atau karena terbiasa menyogok dalam bisnis. Seharusnya wartawan (yang profesional dan memiliki integritas) merasa tersinggung m anakala disodori "amplop"






media masa dan unsur didalamnya



 Dalam tugas kebijakan redaksional kali ini saya akan menganalisis pemberitaan media tentang gempa disumbar.Adanya bencana yang terjadi dinegri ini yang berturut-turut , membuat pemberitaan dimedia tefokus pada  satu titik,, namun terkadang pemberitaan yang ditampilkan terkadang mengundang kontrofersi tersendiri, berita yang diulang-ulang bahkan terkesan hiperbola membuat khalayak menyaring sendiri informasi yang ada. 
Namun karena kebutuhan itu sendiri membuat bahasa yang digunakan pun spontan dan tidak memperhatikan etika jurnalistik itu sendiri, karena pada dasarnya. Media massa adalah sesuatu yang dapat digunakan oleh segala bentuk komunikasi, baik komunikasi personal maupun komunikasi kelompok dan komunikasi massa (Atang Syamsuddin). Secara universal tujuannya adalah: 1).Informasi; 2).Hiburan; 3).Pendidikan; 4).Propaganda/pengaruh; dan 5).Pertanggngjawaban sosial. Sesuai perkembangannya media massa berwujud dalam media cetak (Koran, majalah, bulletin) dan media elektronik (TV, radio dan internet). Dari berbagai macam media massa tersebut mempunyai ciri khas masing-masing baik dalam isi dan pengemasan beritanya, maupun dalam tampilan serta tujuan dasarnya. Perbedaan ini di latarbelakangi oleh kepentingan yang berbeda dari masing-masing media massa. Ada yang bermotif politik, ekonomi, agama dan sebagainya. Seperti yang dikatakan oleh Bambang Harimukti bahwa media masa merupakan kumpulan banyak organisasi dan manusia dengan segala kepentingannya yang beragam, bahkan termasuk yang saling bertentangan.
Kepentingan yang beragam pada media massa adalah hal yang tidak bisa dipungkiri. Ada media massa yang memiliki kepentingan politik, karena ia didanai oleh kekuatan politik tertentu, dan media massa juga ada yang bermotifkan ekonomi, dimana keuntungan secara materil adalah satu-satunya target dari media tersebut. Ada juga media yang bermotifkan pendidikan karena ingin memberikan pengetahuan. Begitupun yang bermotifkan agama, dimana media massa didirikan oleh kelompok agama tertentu untuk menyampaikan ajaran agamanya. Kepentingan dari media massa tersebut dapat mempengaruhi berita yang disampaikan. Dari sinilah muncul sebuah anggapan bahwa fakta yang disampaikan bukanlah fakta yang objektif, melainkan fakta yang telah dikontruksi oleh media atau penulisnya/wartawan dengan latar belakang kepentingan tertentu. Dalam pandangan kaum konstruksionis, berita yang kita baca pada dasarnya adalah hasil dari konstruksi kerja jurnalistik, bukan kaidah baku jurnalistik. Semua proses kontruksi (mulai dari memilih fakta, sumber, pemakaian kata, gambar, sampai penyuntingan) memberi andil bagaimana realitas tersebut hadir dihadapan khalayak (Eriyanto, 2002).
Kalau menengok sejarah media massa di nusantara ini tentu juga tidak bisa melepaskan diri dari reformasi 98 yang selanjutnya menandai babak baru era reformasi sampai sekarang ini. Termasuk reformasi media massa yang sebelumnya pemerintah mempunyai peran kontrol dominan telah bergeser menjadi era keterbukaan yang sangat memberikan peluang kepada masyarakat untuk menjadi pengontrolnya. Sejauh mana media memberikan pesan perlu dianalisis lebih lanjut. Masyarakat sebagai sasaran pembaca, pendengar dan penonton media massa hendaknya mempunyai pisau analisa agar media menjadi jalan pencerdasan bukan sebaliknya yaitu jalan pembodohan dan penelikungan.
Perspektif Media Massa
Seiring muncul dan berkembangnya analisis terhadap media masaa, maka muncul berbagai pendekatan yang mencoba digunakan, yakni:Pendekatan pluralis. Dalam pendekatan pluralis, berita adalah cermin dan refleksi dari kenyataan. Oleh karena itu, berita heruslah sama dan sebangun dengan fakta yang hendak diliput. Sedangkan posisi media sendiri merupakan sarana yang bebas dan netral tempat semua kelompok masyarakat saling berdiskusi yang tidak dominan. Senada dengan pendekatan ini adalah pendekatan positivis. Menurut pendekatan ini media merupakan saluran pesan. Ada fakta riil yang diatur oleh kaidah-kaidah tertentu yang berlaku universal. Berita adalah cermin dan refleksi dari kenyataan, karena itu, berita haruslah sama dan sebangun dengan fakta yang hendak diliput
Bertolak dari pendekatan tersebut adalah pendekatan kritis. Menurut pendekatan ini berita tidak mungkin merupakan cermin dan refleksi dari realitas, karena berita yang terbentuk hanya cermin dari kepentingan kekuatan dominan. Sedangkan media sesungguhnya bukan milik publik, tetapi dikuasai oleh kelompok dominan dan menjadi sarana untuk memojokan kelompok lain, sehingga sulit untuk berdiri secara netral dan independent. Pendekatan selanjutnya adalah pendekatan konstruksionis. Menurut konstruksionis, media merupakan agen konstruksi pesan. Fakta yang ada dalam media tiada lain merupakan konstruksi atas realitas. Kebenaran suatu fakta bersifat relatif, berlaku sesuai konteks tertentu. Berita tidak mungkin merupakan cermin dan refleksi dari realitas. Karena berita yang terbentuk merupakan konstruksi atas realitas.

Kebebasan pers
Kebebasan pers adalah bagian dari hak asasi manusia. UUD 45 pasal 28 berbunyi: “Setiap orang berhak berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.” Jadi pengertiannya luas sekali. Meski begitu kita juga pernah mengalami penindasan, kecurigaan, dan alasan-alasan lain yang terlalu jelas. Intinya: pers dibungkam. Jadi isunya adalah soal kebebasan pers dan mendapatkan informasi. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan kebebasan pers dan mendapatkan informasi itu?

Dalam kondisi seperti itulah dibutuhkan pers yang secara bebas dapat mewakili publik untuk mengakses informasi. Dari sinilah bermula apa yang disebut “pers bebas” (free press) atau “kebebasan pers” (freedom of the press) sebagai syarat mutlak bagi sebuah negara yang demokratis dan terbuka. Begitu pentingnya freedom of the press tersebut, sehingga Thomas Jefferson, presiden ketiga Amerika Serikat (1743 – 1826), pada tahun 1802 menulis, “Seandainya saya diminta memutuskan antara pemerintah tanpa pers, atau pers tanpa pemerintah, maka tanpa ragu sedikit pun saya akan memilih yang kedua.” Padahal, selama memerintah ia tak jarang mendapat perlakuan buruk dari pers AS

Untuk pertama kalinya dalam sejarah pers Indonesia, kebebasan pers baru diakui secara konstitusional setelah 54 tahun Indonesia merdeka secara politik, yaitu dalam UU Nomor 40/1999 tentang Pers. Meskipun demikian, pengertian kebebasan pers belum dimengerti secara merata oleh publik Indonesia. Bahkan para pejabat dan kalangan pers sendiri pun – yang mestinya lebih mengerti – masih ada yang kurang faham mengenai makna dan pengertrian kebebasan pers yang sesungguhnya. Oleh karena mengemban tugas luhur dan mulia itulah, pers yang bebas juga harus memiliki tanggung jawab – yang dirumuskan dalam naskah Kode Etik Jurnalistik atau Kode Etik Wartawan Indonesia sebagai “bebas dan bertanggung jawab.” Belakangan, pengertian “bebas” menjadi kabur – terutama di zaman pemerintahan Presiden Soeharto — gara-gara sikap pemerintah yang sangat represif, sementara pengertian “bertanggung jawab” dimaknai sebagai “bertanggung jawab kepada pemerintah.” Padahal, yang dimaksud dengan bebas ialah bebas dalam mengakses informasi yang terbuka; sementara yang dimaksud dengan bertanggung jawab ialah bertangung jawab kepada publik, kebenaran, hukum, common sense, akal sehat.

Sayang, belakangan pers sendiri kurang memahami makna “kebebasan pers” sehingga sebagian di antara ribuan penerbitan (yang sudah tak lagi memerlukan izin terbit itu!) tidak lagi berperan sebagai pers yang bertanggung jawab. Ada pers yang bekerja serampangan, mulai dari praktik peliputan di lapangan, pengemasan berita, sampai pengelolaan manajemennya. Di lain pihak, publik yang menyadari akan hak-hak sipilnya mulai berani menyuarakan aspirasi mereka, termasuk memprotes, menggugat (dengan cara yang tidak semestinya – bahkan main hakim sendiri), bahkan meneror wartawan dan kantor media pers. Ini semua adalah dampak dari reformasi, ketika (sebagian) masyarakat mulai terbuka dan menyadari akan hak-hak sipilnya.

  Jika kita mengidam-idamkan sebuah pers yang ideal, bagaimanakah seharusnya jati diri seorang wartawan? Meskipun wartawan boleh dikata merupakan profesi terbuka, wartawan yang baik ialah yang   memahami perannya sebagaimana telah kita singgung di bagian awal makalah ini, bahwa dia adalah kepanjangan tangan atau penyambung lidah publik. Oleh karena ia mendapat amanat publik sehingga mendapat kesempatan untuk mengakses informasi secara bebas (dalam iklim pers bebas) maka ia harus bertanggung jawab kepada publik, kepada kebenaran, keadilan, kejujuran, common sense, akal sehat. Ia harus benar-benar profesional, sedapat mungkin independen, memiliki integritas yang tinggi – dan jangan lupa: berpihak kepada mereka yang lemah.
 Dalam mengakses informasi ia harus obyektif, mendalaminya dari berbagai sudut yang memungkinkan, sehingga dapat memperoleh atau menggambarkan sebuah kasus secara lengkap, akurat dan obyektif. Lepas dari apakah dia mendapat gaji besar atau kecil, wartawan yang baik seharusnya profesional, independen, memiliki integritas yang tinggi. Cuma sayang sekali, banyak perusahaan pers yang “tidak sempat” menyelenggarakan inhouse training bagi wartawan dan redakturnya. Celakanya, ada juga (sebagian) wartawan yang tak mampu menulis berita yang baik. Bahkan ada yang tak faham persyaratan berita yang klasik: 5-W (who, what, when, where, why) dan 1-H (how).
Ia juga tak canggung menulis berbagai jenis berita, mulai dari straight news, breaking news sampai feature. Dengan kata lain, skill (kemampuan, keterampilan) maupun personal quality ataupun integritasnya benar-benar mumpuni. Lebih dari itu, ia punya the nose of news (kemampuan mengendus jenis berita), mana berita yang biasa-biasa saja, dan mana berita yang layak dimuat, atau bahkan eksklusif. Ia mampu melihat dengan jeli apa yang disebut news value – sebagaimana kata Charles A. Dana (1882) lebih seabad silam, “When a dog bite a man that is not a news, but when a man bites a dog that is a news” (Jika ada seokor anjing menggigit orang hal itu bukanlah berita, tapi jika ada orang menggigit anjing hal itu baru berita). Selain itu, ia mampu pula menembus sumber berita, tidak hanya melakukan wawancara yang lazim, melainkan juga mampu melakukan investigative reporting – kemudian menyajikannya sebagai feature yang mendalam, indeph reporting, indeph feature..
 Kualitas kepribadian wartawan seperti itu berbanding terbalik dengan mereka yang lazim disebut sebagai “wartawan bodreks”, “wartawan amplop,” “wartawan gadungan”, “wartawan muntaber alias muncul tanpa berita”, WTS (wartawan tanpa surat kabar). Jenis “wartawan yang tersebut belakangan itu harus diwaspadai karena mereka bukanlah wartawan yang sebenarnya. Mereka sering minta uang (bahkan berani memeras) nara sumber. Tapi di lain pihak, inilah repotnya, juga ada nara sumber yang memberi “amplop” kepada wartawan – karena diminta, karena ingin agar namanya jangan dicemarkan, atau karena terbiasa menyogok dalam bisnis. Seharusnya wartawan (yang profesional dan memiliki integritas) merasa tersinggung m anakala disodori “amplop
Tugas Kebijakan Redaksional
“ANALISIS MEDIA TENTANG GEMPA SUMBAR”












Disusun oleh :
Nabilla fuadillah alhumaira
2006 - 41 - 251



Fakultas ilmu komunikasi
Universitas Prof.Dr.Moestopo (beragama)
2009 - 2010




motif


Definisi motif sendiri adalah alasan-alasan manusia yang melatar belakangi mereka untuk melakukan suatu kehendak
motif merupakan dorongan dalam diri manusia yang timbul dikarenakan adanya kebutuhan-kebutuhan yang ingin dipenuhi oleh manusia tersebut. ada beberapa kriteria motif:
berikut ini adalah motif-motif yang timbul pada diri manusia ketika berkomunikasi:
• motif informatif, yaitu segala sesuatu yang berhubungan dengan hasrat untuk memenuhi kebutuhan akan ilmu pengetahuan
• motif hiburan, yaitu hal-hal yang berkenaan untuk mendapatkan rasa senang
• motif integrasi personal, merupakan motif-motif yang timbul akibat keinginan untuk memperteguh status, kredibilitas, rasa percaya diri, dll
• motif integratif sosial, dimaksudkan untuk memperteguh kontak sosial dengan cara berinteraksi dengan keluarga, teman, orang lain
• motif pelarian, merupakan motif pelepasan diri dari rutinitas, rasa bosan, atau ketika sedang sendiri
latar belakang juga dapat disebut motif tergantung daru sudut pandang mana melihat kebutuhan tersebut.
1. Kondisi Ideal
Kondisi ideal menggambarkan sebuah keadaan yang menjadi tujuan, dicita-citakan, atau impian. Dalam sebuah organisasi, kondisi ideal biasanya diuraikan dalam sebuah visi misi. Kondisi ideal juga bisa berarti suatu kondisi jangka pendek / jangka menengah / jangka panjang yang ingin dicapai, khususnya yang berkaitan dengan pikiran yang akan Anda rumuskan. Ibaratnya perjalanan, kondisi ideal ini adalah kota tujuan yang ingin dicapai.
2. Kondisi Saat Ini
Kondisi saat ini menggambarkan keadaan yang secara realita benar-benar terjadi pada saat ini. Uraikan kondisi realita tersebut, terutama yang berkaitan dengan pikiran yang sedang dirumuskan. Dan nantinya akan dikaitkan dengan kondisi ideal di atas, akan ditarik benang merahnya. Ibaratnya perjalanan, kondisi saat ini adalah ungkapan tentang: sudah sampai mana perjalanan kita, apakah sudah sampai 10 KM, sudah sampai kota X, atau bahkan belum jalan sama sekali.
3. Solusi
Pada bagian ini, barulah diuraikan hal-hal yang akan dilakukan/ditulis/diteliti/dll dalam rangka mengatasi gap antara kondisi saat ini dengan kondisi ideal yang ingin dicapai. Ibaratnya perjalanan, solusi ini adalah usaha yang akan kita lakukan untuk menuju kota tujuan dari posisi perjalanan kita saat ini.

cover buat polisi tersenyum


tugas fotografi jurnalistik
" keakraban POS 12 "

oleh :
nabillafuadillah alhumaira
2006 - 41 - 251

caption pemulung cilik bantar gebang


Bekasi, 17/11 dua pemulung cilik beristirahat dengan atap yang terbuat dari sisa-sisa baliho iklan, biasanya mereka duduk-duduk menunggu aplusan kerja sebagai pemulung bantar gebang, karena begitu banyak warga sekitar yang menekuni profesi ini, sehingga jam kerja merekapun haris di bagi-bagi. (foto:nabilla)

Bekasi 17/11,  dari puncak bukit sampah Bantar gebang seorang pemulung cilik disela jam kerjanya menatap alat berat sambil melahap buah mangga yang ada ditangan kirinya. (foto:nabilla)

Bekasi17/11, bau yang menyengat tidak menghalangi pemulung cilik menikmati masa kana-kanaknya dengan memainkan petak umpet diantara tumpukan sampah yang menggunung. (foto:nabilla)

Bekasi 17/11, abdul pemulung cilik yang menapat kearah truk sampah yang datang, ia harus tetap memilah sampah mana yang dapat dia manfaatkan dan sampah mana yang tidak berguna, hal ini dilakukan juga oleh pemulung lain sehingga tidak semua sampah diangkut ke tong-tong rotam mereka. (foto:nabilla)

Bekasi 17/11, abdul terlihat putus asa diantara pemulung-pemulung lain berebut mencari sampah karena sampah yang ia cari tidak ia temukan, kembali ia harus menunggu truk lain yang membawa sampah yang ia butuhkan. (foto: nabilla)

Bekasi 17/11, sampah- sampah yang bermuara ke Bantar gebang adalah surga bagi pemulung, kebersihan bukanlah lagi prioritas bagi mereka, ada kurang lebih 500 truk / harinya yang datang kebantar gebang dengan luas 1012 h tersebut, beginilah wajah sampah di indonesia khususnya di jabodetabek. (foto:nabilla)

polisi tersenyum


"86, perintah diterima jajaran 12 merapat ke markas, di copy" , suara semacam itu ku dengar saat aku menghampiri pos polisi 12 yang tepat berada didepan blok m plaza jakarta selatan, baru kali ini aku datang menghampiri mereka karena biasanya aku yang menghindar ,  namun tugas fotografi jurnalistikku memaksaku harus bertemu dan kontak langsung dengan polisi -polisi itu untuk sekedar foto dan wawancara.

siang itu terbilang cukup mendung namun hujan tidak tampak dilangit selatan, langkahku menyusuri jalan raya blok m yang ramai itu, lalu lalang pejalan kaki dan pengendara bermotor membuat riuh suasana disana, aku masuk ke pos polisi sambil tersenyum aku menyampaikan niatku untuk memotret mereka, dibenakku terhempas ketakutan mereka tidak mengijinkan.

namun ternyata "ya sudah kamu pilih saja siapa yang akan menjadi modelmu, nanti beri tahu saya"jelas komandannya sambil menunjuk kearah sebrang warung kopi tempat dimana polisi-polisi itu ber istirahat,
"maaf pak, saya tidak mau menggangu aktivitas bapak, biar nanti saat bapak-bapak itu saja bertugas baru saya akan ambil foto mereka", jawabku
" oh... ya sudah kamu kembali lagi saat sore tiba, karena pada sore harilah kami mulai memperketat penjagaan, klo sekarang sih masih longgar" jelas komandan yang belum sempat kutanya namanya.

aku tersenyum sambil balik badan, ketika aku mulai berjalan "de...nanti kamu ngomong aja sendiri soalnya kita aplusan sore ini ya", "oh ya pak , terimakasih ya" , jawabku berlalu..
mereka berganti shift si malam dan siang hari, satu regu ada empat orang dan ada 3 regu yang bertugas di pos tersebut.

aku pun menunggu sore tiba namun sore belum muncul hujanpun membasahi kawasan blok m tepat jam 2 siang, langkahku mengarah pada pos polisi tadi karena aku takut hujan semakin deras, fikirku lebih baik datang lebih awal dan menunggu disana dari pada kehujanan dan tidak menghasilkan apa-apa...

kuketuk pintu dengan ruang sempit plus wc itu, yang terlihat ada 2 polisi duduk berteduh didalam, "permisi pak saya mahasiswi yang tadi , saya bisa nunggu disini saja sampai bapak bertugas", "oh ya silahkan masuk dek..." jelas salah satu polisi yang sudah tidak memakai baju dinas lagi (mungkin ia akan segera merapat ke polsek untuk aplusan

"sendirian saja??", tanya salah satu polisi yang duduk
"iya pak, temen-temen yang lain menyusul"
"bukanya pos polisi ada ya deket kampus kamu , bundaran senayan itu!?"
"iya pak cuma saya dan teman-teman janjian nonton di blok m", jawabku berusaha akrab
"pasti mau nonton 2012 ya?? saya sudah dua hari datang ke 21 tidak pernah dapat tiket, selalu kehabisan"
aku tersenyum, sepertinya suasana sudah mulai cair aku bisa membuatnya lebih hangat

akhirnya kami pun ngobrol panjang tentang 2012 sampai pada pembunuhan karakter polisi yang sedang gencar terjadi sekarang ini, menurut mereka KKN itu sulit dihapuskan di negara ini, contohnya saja kalau mau masuk kerja akan sangat sulit bila tidak ada link didalam, maka azaz kekeluargaan memang diperlukan..
statment itu keluar sendiri entah sebagai pembelaan atau menggambarkan realita, padahal mereka baru mengenal saya, id mahasiswi pun belum sempat saya tunjukan pada mereka, apakah tidak takut klo statment ini terpublis.

mungkin ini yang disebut akrab, mereka bicara seakan sudah cukup lama kenal denganku, waktu berlalu dan polisi lain pun tiba dipos tersebut, lalu kledua polisi yang ngobrol denganku pun kembali kemarkas, akhirnya aku pun harus memulai penbicaraan baru dengan orang baru .. tak mala kemudian bang abdul pun bertugas di lampu merah depan pos polisi, biasanya mereka menyebut dengan panggilan "berdiri" , aku memulai untuk memotret bang abdul, sulit memang mendapatinya tersenyum saat bertugas, karena pekerjaannya membutuhkan keseriusan yang cukup tinggi apa lagi jika menghadapi supir-supir angkutan umum yang menyebalkan.

setelah bang abdul berjaga tiba temen-temannya sebanyak 2 orang untuk menjaga pos yang satu bernama bang zul parera, rata-rata disana anggotanya cukup muda, dang abdul beda satu tahun diatas aku namun ia mengakui pekerjaannya dijalan membuatnya terlihat tua, sering sekali dia dipanggil pak dibanding kak...

zul parera juga angkatan 2004 dua tahun diatas aku, sambil bercanda ia mengaku sering ditanya "sudah punya anak berapa?", " padahal istri saja saya tak punya" jelasnya sambil tersenyum

aku  pun mulai memotret abang-abang polisi yang bertugas setiap 2 jam sekali mereka bergantian berdiri, hujan pun tidak menghentikan aktivitas mereka mengatur jalanan, meski harus berhadapan dengan pengendara yang nakal, mereka tetap tersenyum karena tugas sebagai abdi negara yang siap melayani masyarakat

sinopsis waria taman lawang, cover belakang



" kaki jenjang si jantan " dan rok mini taman lawang (foto nyusul)


Taman lawang mungkin nama ini sudah tidak asing lagi ditelinga kita dan ditelinga banyak pria – pria hidung belang , kawasan yang bertempat di dekat kuningan ini menyuguhkan hiburan malam yang berbeda, setiap malam mulai dari jam 1 sampai 4 pagi banyak wanita wanita berperawakan pria berdiri disamping- samping jalan yang mulai sepi ditelan malam .

“ jam dinas ” mereka biasa menyebutnya, waria-waria yang cantik dengan keunggulannya masing masing kan membuat semua orang terkaget- kaget melihatnya , dada yang seperti wanita bahkan kelamin yang disulap menjadi seperti wanita tulen pada umumnya .

Tempat itu disebut pusat waria-waria terkenal ibu kota, meski demikian Tak jarang juga waria- waria manis itu harus berlari- lari saat dikejar satuan polisi Pamong Praja ( satpol PP ), yang berpatroli hampir setiap minggu , ini mengganggu mobilitas kerja mereka .

Waria yang biasanya ada ditaman lawang dari berbagai usia , meski begitu mereka mandiri tidak ada senioritas, profesionalisme dijunjung tinggi disana , si pelanggan pria pun bebas memilih mana yang ia suka .

Mereka mamiliki komunitas waria sendiri, yang mambahas masalah kendala - kendala saat melayani pria - pria hidung belang sampai ada sesi curhat , mereka saling bertukar pikiran diforum tersebut .

Di ujung jalan dekat taman senopati ada sekelompok waria yang sedang menunggu - munggu dengan genitnya . Berbekal tas dan make up didalamnya , tasya memamerkan kaki jenjang nya di JL sunda kelapa, dengan gemulai ia melambai kan tangannya kepada setiap pria yang menghampirinya . Pelanggan datang silih berganti, namun hanya ada satu pria dihatinya, seorang mahasiswa asal bandung yang ia kenal saat sedang duduk-duduk di café plasa senayan , tadinya pria itu mengira bahwa dirinya adalah wanita karena sulit membedakan kecantikan wajahnya , ketika pria ini tau bahwa dirinya adalah waria ternyata ia tetap menerima keadaannya .

Wanita berparas cantik itu bernama haris , dari kejauhan ter lihat rok mini berjejer ditaman lawang sulit membedakan antara wanita dan waria , begitu mempesona dengan keanggunannya, berjalan seakan jalan itu catwalknya , namun waria tetaplah waria begitu jelas haris atau tasya.

Malam itu cukup sepi dan dingin, kaki-kaki jenjang taman lawang masih tegap berdiri menanti pria-pria berkantong tebal, waria berusia 20 tahun ini berasal dari lampung , dia sangat mencintai profesi siangnya sebagai penyanyi pup karokesukabento  di grogol, bahkan bila kelak terlepas dari pekerjaan ini ia ingin sekali menjadi sorang penyanyi terkenal .

Tasya biasa orang memanggilnya, sudah 3 tahun merubah kepribadiannya menjadi waria, feminism yang timbul dalam dirinya sudah ada sejak ia masih dilampung kini 1 tahun sudah ia merantau ke Jakarta mencari hidup yang menerima keadaan dirinya, lingkungan memaksanya harus berubah .

Namun keluarganya dikampung halaman tidak mengetahui profesinya kini,ketegaran memaksanya untuk bertahan , terkadang ketakutan juga menyelimuti dirinya jika nanti orang tuanya tau akan profesi aslinya sekarang ini .

Suka duka saat menjajakan diri cukup banyak , mulai dari kenal banyak pria-pria brondong sampai kenal om-om dengan dompet tebalnya , meski demikian duka tak terelakan dari kehidupannya kini, terkadang banyak pria – pria iseng yang melempari botol bahkan telor busuk, kemudian berlalu dengan ledekan- ledekan yang menyakitkan hatinya.

Waria yang pernah memenangkan juara 2 miss waria 2009 ini jarang sekali keluar untuk mangkal mungkin hanya 3 kali dalam seminggu ia menjajajkan diri , biasanya setiap kali keluar ia melanyani 2 sampai 3 pelanggan , tasya lebih senang dibawa dengan mobil dari pada harus melayani pelanggan yang menggunakan motor meski bayarannya lebih besar , karena ia mengaku bukan ekonomi yang memaksanya seperti ini hanya kepuasaan yang ia cari .

Banyak pria yang memboyongnya ke hotel- hotel mewah seperti mariot biasanya 1 jam ia sudah dikembalikan ketempat dimana ia makal sebelumnya, tasya merasa pelanggannya cukup puas dengan servis yang ia berikan, karena blum ada complain selagi ia menjadi waria sampai detik ini “ bahkan mereka selalu kembali untuk tidur denganku lagi ” , jelas tasya bangga .

Pundi-pundi uang dikumpulkannya untuk ditabung dan membeli keperluan sehari hari termasuk make up baju dan asesoris lainnya.anak bungsu dari 5 bersodara ini tidak pernah mengirimkan uang ke kampong halamannya, karena ia sadar dan tau bahwa uang yang ia dapatkan selama ini bukan lah uang yang dicari dengan halal .

Dari setiap ucapan yang tibul dari lidah tindikan milik tasya terpancar sebenarnya ia ingin berhenti dari semua ini , ia ingin memulai hidup baru yang normal dan tidak ada yang ingin seperti ini, jelasnya tegar , namun apa mau dikata jika sudah takdir menjadi waria, “ aku sering mencoba berpenampilan pria namun semua itu tidak bisa natural ku coba

Lagi pula aku punya teman- teman yang banyak seperti aku nasib hidupnya dan membuatku harus memilih waria sebagai panggilan tetapku ” ,  jelas tasya dengan nada pelan .

Memang persodaraan terlihat lekat dalam canda - tawa waria – waria disana , sesekali tasya menggoda teman sampingnya yang sedang diwawancara juga, seperti tidak ada persaingan diantara mereka . Taya tinggal sendiri di kuningan tapi banyak juga teman- teman seprofesinya yang kos bareng dengan wari- waria lain . “ Jakarta kota keras bu..jadi mesti pinter-pinter nyiasatin uang” , begitu katanya sambil memukul bahu salah satu temannya .

Tasya menceritakan beberapa pelanggan yang pernah ia layani, ada kala pria- pria tersebut kasar pada dirinya namun sejauh ini ia masih bisa menangani pria- pria nakal tersebut , “ aku malah bisa lebih galak loh dari mereka “ , seru tasya sambil tertawa .

Tasya memiliki penghasilan yang pas - pasan hampir setiap malam , setidaknya cukup untuk hidup 3 hari . ia tidak mengandalkan hidup dari penjajakan dirinya saat malam tiba di taman lawang, karena ia memiliki hidup lain di siang harinya .

Tasya tidak pernah tau sampai kapan ia akan menekuni hal seperti ini , “ entah sampai kapan mba.. “ tapi sepertinya ia yakin suatu saat ia akan mendapatkan hidup yang layak , dan sekarang yang ada dihadapan ia ikuti sambil melihat arus mana yang akan membawanya kekehidupan impiannya kelak.

P.S. terima kasih bapak Indiwan yang memberikan saya tugas fotografi, saya jadi banyak tau sisi kehidupan lain diJakarta, dan cermin pelajaran hidup untuk saya .

the saddes movie ever, the curious case of banjamin button



o… I went to see the saddest movie ever tonight.  Benjamin Button, although it looks adorable, is the culprit.  Do not be fooled by Brad Pitt and his sensuous ways.  It is a heartbreaker/dream-maker/love-taker (if we get all Pat Benatar on it).



I was all about the story, the love interests, the plot, the involved characters, until the movie neared the end.
WARNING: SPOILER ALERT
When Benjamin Button, the unassuming young 13 year old child at the end of the movie, develops dementia, I think the majority of the audience was in tears.  I am not going to say that I cried or didn’t cry… all i will say, is that it may have been the saddest movie ever.
So I would advise everyone to go see Benjamin Button, but bring some tissues.


the brave one, good movie


kisah seorang penyiar radio yang beberapa minggu lagi akan menikah dengan pria yang berprofesi perawat namun malapetaka menghampiri mereka saat membawa anjing kesayanganya jalan-jalan ditaman new york city dimalam hari, segerombolan preman pun menghajarnya hingga salah satu dari mereka meninggal,,saat itu lah erica yang diperankan jodie foster mengalami trauma yang cukup berat hingga selalu tikan aman saat keluar rumah,satu-satunya yang membuat nya merasa aman adalam senapan dan itu membuatnya menjadi pembunuh orang-orang berandalan musuh polisi, lalu disebutlah ia sebagai hakim jalanan...namun pembunuh tetap saja pembunuh


ditengah perjalanan ia menyukai pria dari kalangan polisi dan mendapatkan banyak informasi tentang orang-orang jahat di new york city...


akankah erica tertangkap?dapatkah ia mengatasi traumanya dan berhenti menjadi hakim jalanan, lalu bagaimana pria polisi yang mencintainya?

nonton the brave one...sangat menarik penuh dengan investigasi


scooby doo 3, good movie


kalau anda  pecinta kartun legendaris scooby doo, anda pasti sudah melihat film-film dalam bentuk non cartoonnya,,untuk anda pecinta scooby jangan lewatkan nonton scooby doo 3 yang isinya tentang begening of mistery inc.

jadi asal mulanya mereka bisa bersahabat dan bersama-sama pertama kali memecahkan satu kasus mistery disekolahnya...

asik menarik penur trik dan tetap eksentrik...


sendal jepit diantara high heels


aku mungkin berdiri di tepi jaman, dengan sendal jepiku aku bisa bertahan diatara beribu high heels
cukup unik cukup aneh tapi membuat itu bersemangat, aku berbeda dari yang lain
aku bukan wanita rapi bergaun dan senyum angkuh dipipinya...aku berjalan apa adanya dengan kehidupanku

kota jakarta kota metropolitan, banyak dijumpai wanita-wanita berpenampilan menarik dengan topeng-topeng yang menyelimuti keseharian mereka, kadang mereka terlihat baik tapi hatinya membusuk...
aku wanita yang luar biasa tapi bukan luar biasa yang menarik atau luar biasa cantik, tapi lebih keluar iasa yang biasa-biasa saja..

sendal jepit diantara high heels...peredaan yang sangat mencolok, andai saja aku bisa berharap kalau sendal jepitku lebih dipandang dan dihargai lebih dari high heels itu..

aku lebih menghargai pengemis dibanding pria berdasi dan wanita bergaun yang penuh kepura-puraan

aku bisa saja menghargai seseorang ketika orang itu memandangku dengan mata terbuka bukan dari tampilan luarku saja...ketika orang itu bisa menghargai apa yang aku lakukan dan orang sekitarnya lakukan...kkarena ia harus tau bahwa ia hidup bukan sendiri, masih banyak orang diluaran sana yang mungkin dia tidak pernah tau bagaimana kehidupannya

benci juga dengan orang-orang yang merasa bahwa dirinya adalah segalanya, bahwa dirinya yang paling tau, bahwa dirinya mampu melakukan apapun dengan uang, harta, jabatan, kecantikan dll

sebenarnya mereka kosong, mereka gak punya apa-apa, dan mereka bukan siapa-siapa
mereka hanya memiliki topeng yang kebetulan terlihat baik diluar tapi tetap busuk didalamnya

sendal jepit diantara high heels perbedaan ini menjadikan aku orang yang memiliki sudut pandang yang berbeda dalam kehidupan,
sendal jepit menjadikan aku hidup sebagai orang yang selalu menunduk dan mengerti makna hidup sebenarnya

hidup adalah usaha, hidup adalah jerih payah

mereka bilang aku berbeda, mereka hanya bisa bicara
justu merekalah yang tidak mengerti apa yang aku lakukan karena kebodhan dan kebutaan mata hati mereka sendiri
ketika mereka sadar dan terbangun maka merekalah yang menyesal...

sendal jepit diantara high heels

p.s. tulisan di atas adalah salah satu kutipan novel ku yang berjudul dunia jasmine yang masih dalam progress

gerobak membawa berkah


siang itu matahari cukup menyekat kulit,,dahaga ditenggorokan mengantarkan ku pada trotoar jalan penuh dengan pedagang kaki lima,,

ketika kubeli sebotol teh manis, perutku mulai menagih sesuatu untuk diolahnya, kuputuskan untuk membeli mie ayam dekat warung minuman,,

"mie ayam satu bang ..jangan pake saos ya!!", kata ku sambil merapat ditempat duduk belakang gerobak coklat milik tukang mie ayam...
mie ku sudah jadi aku pun menyantapnya sampai habis, waktu pun berlalu aku hanya bisa memandang langit yang mulai senja..abang tukang mie ayam duduk samping bangkuku...

sedikt berbincang dengannya, hingga kutahu namanya pa salim,,seorang urbanis yang baru lima tahun datang kejakarta..kami bicara banyak sore itu

pria berumur 47 tahun ini, adalah seorang bapak yang memiliki 2 anak dan satu istri, yang tinggal dikampungnya pemalang , guci, dekat dengan gn selamat
hidup yang keras membuatnya harus bertahan dengan berjualan mie ayam, ia memberi gerobak seharga 3 juta, menabung sedikit-demi sedikit dan di kirimkannya untuk anak istrinya

pak salim menceritakan tentang temannya yang sukses tinggal dijakarta dengan berjualan baso urat, kini dikampung ia sudah memiliki rumah yang cukup lah untuk tinggal mereka, itu membuat bapak paruh baya ini termotivasi untuk membahagiakan keluarganya dikampung,
ia pulang dan menengok keluarganya 3 bulan sekali "tergantung dapet rezekinya, neng", kata pa salim puas

dimatanya tidak ada sama sekali kesedihan, bahkan yang terlihat adalah semangat yang luar biasa,,hal ini dapat terlihat dengan cara berpakaiannya yang sangat rapih, sengan setelan maching kemeja dan celana bahan "kalau mau jualan harus tetap terlihat rapi neng" ujarnya sambil tersenyum, ku fikir pak salim cukup terpelajar dalam hal berbisnis, benar saja ternyata dulu ia sempat bekerja di perkantoran namun ia enggan menyebutkan jabatanya,,hanya saja gajinya standar UMR lah...

ia berhenti kerja dikarenaka gaji yang didapatnya tidak mencukupi hidup anak istrinya dikampung, dengan ia bekerja dan tidak memiliki usaha lain maka uang hasil jerih payahnya habis untuk hidup sehariharinya "iay neng...bayangkan saja , bapak harus bayar kontrakan blum lagi beli makanan tiap hari, jadi gaji cuma lewat dompet bapa saja, sama sekali gak bisa nabung apa lagi untuk ngirim kekampung"ungkapnya kesal...
namn kini setelah ia berenti kerja anaknya dikampung bisa bersekolah..

ditrotoar itu tidak hanya ada pak salim,,penjual lainnya pun ikut meramaikan pinggir jalan salemba dekat dengan kantor bank BNI...

karena ada larangan untuk kaki lima berjualan disana maka tidak jarang pula pak salim dan kawan-kawan kejar-kejaraan dengan satpol PP, untungnya pak salim yang kebetulan kontrakannya dekat situ langsung bisa bersembunyi,
pak salim tinggal dikontrakan gang dekat jalan raya bersama teman-temannya seprofesi sebagai pedagang kaki lima,,

dikala waktu luang ia sering ikut temannya narik angkot 06 gandaria-kampung melayu,

pak salm memiliki harapan anak-anaknya kelak menjadi orang-orang yang berguna tidak seperti bapaknya,,maka dari itu pak salim sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya

rasa syukur terus tersirat diwajah keriputnya, menandakan dia cukup senang dengan kehidupannya kina namun tidak pula merasa putus asa

pak salim adalah salah satu gambaran wajah urbanis ibu kota,,memperlihatkan pada kita usaha bertahan hidup yang keras dengan tetap tabah dan optimis

liukan penari jaipong diantara kerasnya hidup



Kini dunia malam bukan hanya milik orang-orang berduit saja, sekarang ini dunia malam dengan gemerlapnya dapat dinikmati pula oleh supir-supir angkot, kuli bangunan, bahkan pemulung sekalipun.
jalan pisangan raya II kolong jembatan dekat stasiun Jatinegara dimana tempat orang-orang marginal kota berkumpul, mencari hiburan malam yang memang disuguhkan disana, segelas bir dengan ditemani wanita-wanita cantik melayani sambil memonton liukan indah penari jaipong.selain lagu-lagu daerah, lagu lagu dangdut masa kini juga dibawakan.

group tari jaipong jalanan ini pula memiliki management dan tertata rapi dalam keuangannya semua hasil saweran dikumpulkan pada ketua dan dicatat siapa saja yang menerima saweran dan honornya dibagikan dihari yang sama,Mekar Munggaran II nama dari group tersebut,dulunya mekar munggaran bukan dikelola oleh management ini baru berpindah tangan semenjak tahun 1998, dan ditambahkanlah kata II dibelakang nama group ini sebagai pembeda, untuk penari saat ini ada 5 orang dengan dibantu sinden 2 orang, management dipegang turun temurun hingga sekarang yang mengelolanya adalah pak anton jailani anak dari bapak jaelani. Group ini pun telah mendapatkan penghargaan dari walikota Jakarta timur

hal ini cukup kontras dengan kehidupan siang dijalan itu,kotor, kumuh, bahkan tidak terlihat adanya tanda-tanda panggung hiburan yang berdiri disana, hanya kios-kios kecil dengan ukuran seadanya
namun kisah itu dimulai pukul 10 malam, alunan musik khas sunda dengan suara suara sindeng yang memikat mulai mewarnai malam-malam kolong jembatan tersebut, diawali dengan panggilan-panggilan sinden kepada nama-nama pria yang biasa menjadi dermawan tiap malam (saweran) hingga pukul sebelas tiba suara sinden semakin menggoda dan penari-penari pun turun membawakan tarian jaipong khas krawang di jurang jaman yang cukup dalam tidak menggetarkan liukan indah penari-penari jaipong malam itu,,sungguh memikat dengan kelipan matanya seakan berkata,,"aku cantik dan kau harus melihatku", kecantikannya memancarkan kharisma yang luar biasa,pantas saja orang-orang sealu kembali jika sudah pernah kesana...

salah satu dari mereka adalah Aas, berbalut kebaya warna merah muda dengan asesoris yang menarik menambah ayu setiap geraknya, tubuhnya yang tinggi semampai membuat pria-ria malam itu semakin bergeliat dengan tingkahnya..menjadi sebuah keharusan menyawer ketika akan mendekati penari atau siden disana sebagai bentuk imbalan penari pun memberikan goyangan yang diinginkan, dan begitu selanjutnya

tapi tidak disangka seorang Aas penari jaipong yang memiliki tubuh semampai bak putri indonesia adalah janda yang sudah memiliki anak  dan umurnya sudah sembilan tahun namun tinggal dikampung bersama neneknya, Ia jarang sekali pulang kampung padahal jarak dari jakarta kecikarang tidak begitu jauh, memang profesinya dijakarta sebagai penari jaipong cukup berat selain harus bijak menyikapi pria-pria iseng ditengah malam, ia pun hanya memiliki libur satu malam yakni malam jumat, sisanya tetap harus menari meski dalam keadaan apapun misalnya sakit,adapun libur lebaran yang baru saja kemaren ia lewati hanya diberi waktu 10 hari saja.
setiap harinya mulai menari jam 10 malam sampai 2 pagi kadang kalau rame bisa lebih dari waktu yang dijadwalkan.penari-penari itu tidak diperbolehkan turun dari panggung sampai acara selesai, dan sebaliknya pria-pria malam pun tidak boleh naik keatas panggung

penari-penari itu dikumpulkan dalam satu asrama yang terletak tidak jauh dari panggung, namun benar saja kekumuhan masih menyelimuti bahkan sampai tempat tinggal artis-artis mereka (penari dan sindennya), tidur dilantai beralaskan triplek, udara dingin tembus dari kanan kiri dinding karena cukup terbuka untuk ukuran kamar, pergerakan sulit karena sempitnya ruangan tersebut, segala sesuatu persiapan menari dari kostum hingga makeup dipersiapkan sendiri...siang harinya tidak ada kegiatan yang menyibukan mereka hanya digunakan untuk tidur sebagai pengganti tidur malamnya..

wajah lelah itu masih nampak saat Aas mulai merias  wajahnya, dan ternyata ia sudah letih bekerja seperti ini dan menginginkan berhenti, apalagi kalau dapat kerja yang lebih baik lagi…duka mereka saat harus menghadapi pria iseng yang mengganggu,  dan saweran sedikit akan berpengaruh besar pada honor mereka, belum lagi kalau ingat kamung halaman…namun sukanya dapat berbagi setiap masalah karena tinggal bersama, kekeluargaannya cukup tinggi

mengupas sisi lain dunia malam samping rel kereta dengan wanita-wanita tanguh yang masih bertahan dibalik kebaya dan sanggulnya
akankah pelestarian budaya seperti ini bukan lagi sebagai alat pembenaran pria-pria genit ibu kota?? bukankah profesi mulia melestarikan budaya negri patut diberi apresiasi bukan dipinggirkan??lalu bagaimana nasib penari-penari jalanan?

penari jaipong jatinegara malam itu...part 1


waktu menunjukan pukul 4 sore, aku pun masih tertidur lelah setelah kemarin bersenang-senang di pantai ancol..
namun seketika ku paskakan tubuhku untuk bangun dan bergegas ke wc sambil menyiapkan beberapa peralatan karena tugas fotografi pak indiwan menanti...

jatinegara adalah tujuanku kini, memotret sisi lain dari kehidupan malam di pinggir rel kereta, sebuah pengalaman yang menarik dan sangat kunanti..
setengah lima temanku stella menanti di UKI..lalu kami janjian lagi dengan 3 teman satu kelompok kami di pintu masuk stasiun jatinegara,,

sore itu cukup padat bagiku,,orang-orang mulai banyak yang membuka lapak jualannya,, memang emperan depan stasiun jatinegara terkenal sesalu buka diatas magrib dampai jam 10 malam...
ku parkir si mio dan kami ber5 melangkah ke arah panggung pujaan pria malam si penari jaipong tersebut setelah sebelumnya bertanya pada tukang parkir sekitar

langkah kakiku mulai tersentak getaran setelah tau bahwa kelompok tugas yang sama dalam mata kuliah ini sempat diusir oleh bos penari disana karena tidak memiliki etika dalam pengambilan gambar,namun hati ku mulai menguatkan lagi "berusaha untuk tetap sopan"
mala sebagai ketua kelompok mengultimatumkan agar tidak menyinggung kampus kita dan menggunakan kamus sahid sebagai identitas sementara,,aku stella, adit, achi langsung meng iya kannya,,

menurut tukang parkir yang kami sempat tanya tadi, letak panggung ada dibawah jembatan samping rel kereta, namun tidak satupun kami lihat panggung atau gemerlap-gemerlip dekorasi,,sepanjang jalan itu yang terlihat hanya kios-kios 3 x 4 yang ditutup rapat...mata kami tertuju pada bengkel kecil, dan mulai menanyakan arah pada 2 tukang disana..namun ada yang aneh dari gelagat tukang yang lebih tua, selain tidak ramah, ia pun sepertinya tidak ingin menunjukan dimana panggung itu berada..

kami tidak mendapatkan informasi yang jelas dari kedua tukang tadi, dengan modal nekat lima cewe itu melanjutkan perjalanan, karena arah mulai tidak menentu aku lihat ada mba-mba, lalu aku memberanikan diri untuk bertanya dimana tempat penari-penari itu kumpul, lalu ia menunjukan jarinya pada si ibu berbadan besar yang berdiri disebrangnya sambil berkata"tanya itu aja tuh..dia bosnya"

kesepuluh mata lima cewe ini memindahkan focus pada ibu yg ada disebrang, benar saja sisa sisa kekecewaan akan ketidak sopanan mahasiswa moestopo itu masih ada dan keluar di tiap perkataanya ketika kami mulai menghujaninya dengan pertanyaan,,lalu tak lama kemudian muncul pria yang badannya juga besar,dengan sinis bertanya,"dari moestopo??!!","bukan bang kami dari sahid" kata mala tenang..