liukan penari jaipong diantara kerasnya hidup



Kini dunia malam bukan hanya milik orang-orang berduit saja, sekarang ini dunia malam dengan gemerlapnya dapat dinikmati pula oleh supir-supir angkot, kuli bangunan, bahkan pemulung sekalipun.
jalan pisangan raya II kolong jembatan dekat stasiun Jatinegara dimana tempat orang-orang marginal kota berkumpul, mencari hiburan malam yang memang disuguhkan disana, segelas bir dengan ditemani wanita-wanita cantik melayani sambil memonton liukan indah penari jaipong.selain lagu-lagu daerah, lagu lagu dangdut masa kini juga dibawakan.

group tari jaipong jalanan ini pula memiliki management dan tertata rapi dalam keuangannya semua hasil saweran dikumpulkan pada ketua dan dicatat siapa saja yang menerima saweran dan honornya dibagikan dihari yang sama,Mekar Munggaran II nama dari group tersebut,dulunya mekar munggaran bukan dikelola oleh management ini baru berpindah tangan semenjak tahun 1998, dan ditambahkanlah kata II dibelakang nama group ini sebagai pembeda, untuk penari saat ini ada 5 orang dengan dibantu sinden 2 orang, management dipegang turun temurun hingga sekarang yang mengelolanya adalah pak anton jailani anak dari bapak jaelani. Group ini pun telah mendapatkan penghargaan dari walikota Jakarta timur

hal ini cukup kontras dengan kehidupan siang dijalan itu,kotor, kumuh, bahkan tidak terlihat adanya tanda-tanda panggung hiburan yang berdiri disana, hanya kios-kios kecil dengan ukuran seadanya
namun kisah itu dimulai pukul 10 malam, alunan musik khas sunda dengan suara suara sindeng yang memikat mulai mewarnai malam-malam kolong jembatan tersebut, diawali dengan panggilan-panggilan sinden kepada nama-nama pria yang biasa menjadi dermawan tiap malam (saweran) hingga pukul sebelas tiba suara sinden semakin menggoda dan penari-penari pun turun membawakan tarian jaipong khas krawang di jurang jaman yang cukup dalam tidak menggetarkan liukan indah penari-penari jaipong malam itu,,sungguh memikat dengan kelipan matanya seakan berkata,,"aku cantik dan kau harus melihatku", kecantikannya memancarkan kharisma yang luar biasa,pantas saja orang-orang sealu kembali jika sudah pernah kesana...

salah satu dari mereka adalah Aas, berbalut kebaya warna merah muda dengan asesoris yang menarik menambah ayu setiap geraknya, tubuhnya yang tinggi semampai membuat pria-ria malam itu semakin bergeliat dengan tingkahnya..menjadi sebuah keharusan menyawer ketika akan mendekati penari atau siden disana sebagai bentuk imbalan penari pun memberikan goyangan yang diinginkan, dan begitu selanjutnya

tapi tidak disangka seorang Aas penari jaipong yang memiliki tubuh semampai bak putri indonesia adalah janda yang sudah memiliki anak  dan umurnya sudah sembilan tahun namun tinggal dikampung bersama neneknya, Ia jarang sekali pulang kampung padahal jarak dari jakarta kecikarang tidak begitu jauh, memang profesinya dijakarta sebagai penari jaipong cukup berat selain harus bijak menyikapi pria-pria iseng ditengah malam, ia pun hanya memiliki libur satu malam yakni malam jumat, sisanya tetap harus menari meski dalam keadaan apapun misalnya sakit,adapun libur lebaran yang baru saja kemaren ia lewati hanya diberi waktu 10 hari saja.
setiap harinya mulai menari jam 10 malam sampai 2 pagi kadang kalau rame bisa lebih dari waktu yang dijadwalkan.penari-penari itu tidak diperbolehkan turun dari panggung sampai acara selesai, dan sebaliknya pria-pria malam pun tidak boleh naik keatas panggung

penari-penari itu dikumpulkan dalam satu asrama yang terletak tidak jauh dari panggung, namun benar saja kekumuhan masih menyelimuti bahkan sampai tempat tinggal artis-artis mereka (penari dan sindennya), tidur dilantai beralaskan triplek, udara dingin tembus dari kanan kiri dinding karena cukup terbuka untuk ukuran kamar, pergerakan sulit karena sempitnya ruangan tersebut, segala sesuatu persiapan menari dari kostum hingga makeup dipersiapkan sendiri...siang harinya tidak ada kegiatan yang menyibukan mereka hanya digunakan untuk tidur sebagai pengganti tidur malamnya..

wajah lelah itu masih nampak saat Aas mulai merias  wajahnya, dan ternyata ia sudah letih bekerja seperti ini dan menginginkan berhenti, apalagi kalau dapat kerja yang lebih baik lagi…duka mereka saat harus menghadapi pria iseng yang mengganggu,  dan saweran sedikit akan berpengaruh besar pada honor mereka, belum lagi kalau ingat kamung halaman…namun sukanya dapat berbagi setiap masalah karena tinggal bersama, kekeluargaannya cukup tinggi

mengupas sisi lain dunia malam samping rel kereta dengan wanita-wanita tanguh yang masih bertahan dibalik kebaya dan sanggulnya
akankah pelestarian budaya seperti ini bukan lagi sebagai alat pembenaran pria-pria genit ibu kota?? bukankah profesi mulia melestarikan budaya negri patut diberi apresiasi bukan dipinggirkan??lalu bagaimana nasib penari-penari jalanan?

0 Response to liukan penari jaipong diantara kerasnya hidup

Posting Komentar