gerobak membawa berkah
siang itu matahari cukup menyekat kulit,,dahaga ditenggorokan mengantarkan ku pada trotoar jalan penuh dengan pedagang kaki lima,,
ketika kubeli sebotol teh manis, perutku mulai menagih sesuatu untuk diolahnya, kuputuskan untuk membeli mie ayam dekat warung minuman,,
"mie ayam satu bang ..jangan pake saos ya!!", kata ku sambil merapat ditempat duduk belakang gerobak coklat milik tukang mie ayam...
mie ku sudah jadi aku pun menyantapnya sampai habis, waktu pun berlalu aku hanya bisa memandang langit yang mulai senja..abang tukang mie ayam duduk samping bangkuku...
sedikt berbincang dengannya, hingga kutahu namanya pa salim,,seorang urbanis yang baru lima tahun datang kejakarta..kami bicara banyak sore itu
pria berumur 47 tahun ini, adalah seorang bapak yang memiliki 2 anak dan satu istri, yang tinggal dikampungnya pemalang , guci, dekat dengan gn selamat
hidup yang keras membuatnya harus bertahan dengan berjualan mie ayam, ia memberi gerobak seharga 3 juta, menabung sedikit-demi sedikit dan di kirimkannya untuk anak istrinya
pak salim menceritakan tentang temannya yang sukses tinggal dijakarta dengan berjualan baso urat, kini dikampung ia sudah memiliki rumah yang cukup lah untuk tinggal mereka, itu membuat bapak paruh baya ini termotivasi untuk membahagiakan keluarganya dikampung,
ia pulang dan menengok keluarganya 3 bulan sekali "tergantung dapet rezekinya, neng", kata pa salim puas
dimatanya tidak ada sama sekali kesedihan, bahkan yang terlihat adalah semangat yang luar biasa,,hal ini dapat terlihat dengan cara berpakaiannya yang sangat rapih, sengan setelan maching kemeja dan celana bahan "kalau mau jualan harus tetap terlihat rapi neng" ujarnya sambil tersenyum, ku fikir pak salim cukup terpelajar dalam hal berbisnis, benar saja ternyata dulu ia sempat bekerja di perkantoran namun ia enggan menyebutkan jabatanya,,hanya saja gajinya standar UMR lah...
ia berhenti kerja dikarenaka gaji yang didapatnya tidak mencukupi hidup anak istrinya dikampung, dengan ia bekerja dan tidak memiliki usaha lain maka uang hasil jerih payahnya habis untuk hidup sehariharinya "iay neng...bayangkan saja , bapak harus bayar kontrakan blum lagi beli makanan tiap hari, jadi gaji cuma lewat dompet bapa saja, sama sekali gak bisa nabung apa lagi untuk ngirim kekampung"ungkapnya kesal...
namn kini setelah ia berenti kerja anaknya dikampung bisa bersekolah..
ditrotoar itu tidak hanya ada pak salim,,penjual lainnya pun ikut meramaikan pinggir jalan salemba dekat dengan kantor bank BNI...
karena ada larangan untuk kaki lima berjualan disana maka tidak jarang pula pak salim dan kawan-kawan kejar-kejaraan dengan satpol PP, untungnya pak salim yang kebetulan kontrakannya dekat situ langsung bisa bersembunyi,
pak salim tinggal dikontrakan gang dekat jalan raya bersama teman-temannya seprofesi sebagai pedagang kaki lima,,
dikala waktu luang ia sering ikut temannya narik angkot 06 gandaria-kampung melayu,
pak salm memiliki harapan anak-anaknya kelak menjadi orang-orang yang berguna tidak seperti bapaknya,,maka dari itu pak salim sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya
rasa syukur terus tersirat diwajah keriputnya, menandakan dia cukup senang dengan kehidupannya kina namun tidak pula merasa putus asa
pak salim adalah salah satu gambaran wajah urbanis ibu kota,,memperlihatkan pada kita usaha bertahan hidup yang keras dengan tetap tabah dan optimis
ketika kubeli sebotol teh manis, perutku mulai menagih sesuatu untuk diolahnya, kuputuskan untuk membeli mie ayam dekat warung minuman,,
"mie ayam satu bang ..jangan pake saos ya!!", kata ku sambil merapat ditempat duduk belakang gerobak coklat milik tukang mie ayam...
mie ku sudah jadi aku pun menyantapnya sampai habis, waktu pun berlalu aku hanya bisa memandang langit yang mulai senja..abang tukang mie ayam duduk samping bangkuku...
sedikt berbincang dengannya, hingga kutahu namanya pa salim,,seorang urbanis yang baru lima tahun datang kejakarta..kami bicara banyak sore itu
pria berumur 47 tahun ini, adalah seorang bapak yang memiliki 2 anak dan satu istri, yang tinggal dikampungnya pemalang , guci, dekat dengan gn selamat
hidup yang keras membuatnya harus bertahan dengan berjualan mie ayam, ia memberi gerobak seharga 3 juta, menabung sedikit-demi sedikit dan di kirimkannya untuk anak istrinya
pak salim menceritakan tentang temannya yang sukses tinggal dijakarta dengan berjualan baso urat, kini dikampung ia sudah memiliki rumah yang cukup lah untuk tinggal mereka, itu membuat bapak paruh baya ini termotivasi untuk membahagiakan keluarganya dikampung,
ia pulang dan menengok keluarganya 3 bulan sekali "tergantung dapet rezekinya, neng", kata pa salim puas
dimatanya tidak ada sama sekali kesedihan, bahkan yang terlihat adalah semangat yang luar biasa,,hal ini dapat terlihat dengan cara berpakaiannya yang sangat rapih, sengan setelan maching kemeja dan celana bahan "kalau mau jualan harus tetap terlihat rapi neng" ujarnya sambil tersenyum, ku fikir pak salim cukup terpelajar dalam hal berbisnis, benar saja ternyata dulu ia sempat bekerja di perkantoran namun ia enggan menyebutkan jabatanya,,hanya saja gajinya standar UMR lah...
ia berhenti kerja dikarenaka gaji yang didapatnya tidak mencukupi hidup anak istrinya dikampung, dengan ia bekerja dan tidak memiliki usaha lain maka uang hasil jerih payahnya habis untuk hidup sehariharinya "iay neng...bayangkan saja , bapak harus bayar kontrakan blum lagi beli makanan tiap hari, jadi gaji cuma lewat dompet bapa saja, sama sekali gak bisa nabung apa lagi untuk ngirim kekampung"ungkapnya kesal...
namn kini setelah ia berenti kerja anaknya dikampung bisa bersekolah..
ditrotoar itu tidak hanya ada pak salim,,penjual lainnya pun ikut meramaikan pinggir jalan salemba dekat dengan kantor bank BNI...
karena ada larangan untuk kaki lima berjualan disana maka tidak jarang pula pak salim dan kawan-kawan kejar-kejaraan dengan satpol PP, untungnya pak salim yang kebetulan kontrakannya dekat situ langsung bisa bersembunyi,
pak salim tinggal dikontrakan gang dekat jalan raya bersama teman-temannya seprofesi sebagai pedagang kaki lima,,
dikala waktu luang ia sering ikut temannya narik angkot 06 gandaria-kampung melayu,
pak salm memiliki harapan anak-anaknya kelak menjadi orang-orang yang berguna tidak seperti bapaknya,,maka dari itu pak salim sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya
rasa syukur terus tersirat diwajah keriputnya, menandakan dia cukup senang dengan kehidupannya kina namun tidak pula merasa putus asa
pak salim adalah salah satu gambaran wajah urbanis ibu kota,,memperlihatkan pada kita usaha bertahan hidup yang keras dengan tetap tabah dan optimis
0 Response to gerobak membawa berkah
Posting Komentar