" kaki jenjang si jantan " dan rok mini taman lawang (foto nyusul)


Taman lawang mungkin nama ini sudah tidak asing lagi ditelinga kita dan ditelinga banyak pria – pria hidung belang , kawasan yang bertempat di dekat kuningan ini menyuguhkan hiburan malam yang berbeda, setiap malam mulai dari jam 1 sampai 4 pagi banyak wanita wanita berperawakan pria berdiri disamping- samping jalan yang mulai sepi ditelan malam .

“ jam dinas ” mereka biasa menyebutnya, waria-waria yang cantik dengan keunggulannya masing masing kan membuat semua orang terkaget- kaget melihatnya , dada yang seperti wanita bahkan kelamin yang disulap menjadi seperti wanita tulen pada umumnya .

Tempat itu disebut pusat waria-waria terkenal ibu kota, meski demikian Tak jarang juga waria- waria manis itu harus berlari- lari saat dikejar satuan polisi Pamong Praja ( satpol PP ), yang berpatroli hampir setiap minggu , ini mengganggu mobilitas kerja mereka .

Waria yang biasanya ada ditaman lawang dari berbagai usia , meski begitu mereka mandiri tidak ada senioritas, profesionalisme dijunjung tinggi disana , si pelanggan pria pun bebas memilih mana yang ia suka .

Mereka mamiliki komunitas waria sendiri, yang mambahas masalah kendala - kendala saat melayani pria - pria hidung belang sampai ada sesi curhat , mereka saling bertukar pikiran diforum tersebut .

Di ujung jalan dekat taman senopati ada sekelompok waria yang sedang menunggu - munggu dengan genitnya . Berbekal tas dan make up didalamnya , tasya memamerkan kaki jenjang nya di JL sunda kelapa, dengan gemulai ia melambai kan tangannya kepada setiap pria yang menghampirinya . Pelanggan datang silih berganti, namun hanya ada satu pria dihatinya, seorang mahasiswa asal bandung yang ia kenal saat sedang duduk-duduk di café plasa senayan , tadinya pria itu mengira bahwa dirinya adalah wanita karena sulit membedakan kecantikan wajahnya , ketika pria ini tau bahwa dirinya adalah waria ternyata ia tetap menerima keadaannya .

Wanita berparas cantik itu bernama haris , dari kejauhan ter lihat rok mini berjejer ditaman lawang sulit membedakan antara wanita dan waria , begitu mempesona dengan keanggunannya, berjalan seakan jalan itu catwalknya , namun waria tetaplah waria begitu jelas haris atau tasya.

Malam itu cukup sepi dan dingin, kaki-kaki jenjang taman lawang masih tegap berdiri menanti pria-pria berkantong tebal, waria berusia 20 tahun ini berasal dari lampung , dia sangat mencintai profesi siangnya sebagai penyanyi pup karokesukabento  di grogol, bahkan bila kelak terlepas dari pekerjaan ini ia ingin sekali menjadi sorang penyanyi terkenal .

Tasya biasa orang memanggilnya, sudah 3 tahun merubah kepribadiannya menjadi waria, feminism yang timbul dalam dirinya sudah ada sejak ia masih dilampung kini 1 tahun sudah ia merantau ke Jakarta mencari hidup yang menerima keadaan dirinya, lingkungan memaksanya harus berubah .

Namun keluarganya dikampung halaman tidak mengetahui profesinya kini,ketegaran memaksanya untuk bertahan , terkadang ketakutan juga menyelimuti dirinya jika nanti orang tuanya tau akan profesi aslinya sekarang ini .

Suka duka saat menjajakan diri cukup banyak , mulai dari kenal banyak pria-pria brondong sampai kenal om-om dengan dompet tebalnya , meski demikian duka tak terelakan dari kehidupannya kini, terkadang banyak pria – pria iseng yang melempari botol bahkan telor busuk, kemudian berlalu dengan ledekan- ledekan yang menyakitkan hatinya.

Waria yang pernah memenangkan juara 2 miss waria 2009 ini jarang sekali keluar untuk mangkal mungkin hanya 3 kali dalam seminggu ia menjajajkan diri , biasanya setiap kali keluar ia melanyani 2 sampai 3 pelanggan , tasya lebih senang dibawa dengan mobil dari pada harus melayani pelanggan yang menggunakan motor meski bayarannya lebih besar , karena ia mengaku bukan ekonomi yang memaksanya seperti ini hanya kepuasaan yang ia cari .

Banyak pria yang memboyongnya ke hotel- hotel mewah seperti mariot biasanya 1 jam ia sudah dikembalikan ketempat dimana ia makal sebelumnya, tasya merasa pelanggannya cukup puas dengan servis yang ia berikan, karena blum ada complain selagi ia menjadi waria sampai detik ini “ bahkan mereka selalu kembali untuk tidur denganku lagi ” , jelas tasya bangga .

Pundi-pundi uang dikumpulkannya untuk ditabung dan membeli keperluan sehari hari termasuk make up baju dan asesoris lainnya.anak bungsu dari 5 bersodara ini tidak pernah mengirimkan uang ke kampong halamannya, karena ia sadar dan tau bahwa uang yang ia dapatkan selama ini bukan lah uang yang dicari dengan halal .

Dari setiap ucapan yang tibul dari lidah tindikan milik tasya terpancar sebenarnya ia ingin berhenti dari semua ini , ia ingin memulai hidup baru yang normal dan tidak ada yang ingin seperti ini, jelasnya tegar , namun apa mau dikata jika sudah takdir menjadi waria, “ aku sering mencoba berpenampilan pria namun semua itu tidak bisa natural ku coba

Lagi pula aku punya teman- teman yang banyak seperti aku nasib hidupnya dan membuatku harus memilih waria sebagai panggilan tetapku ” ,  jelas tasya dengan nada pelan .

Memang persodaraan terlihat lekat dalam canda - tawa waria – waria disana , sesekali tasya menggoda teman sampingnya yang sedang diwawancara juga, seperti tidak ada persaingan diantara mereka . Taya tinggal sendiri di kuningan tapi banyak juga teman- teman seprofesinya yang kos bareng dengan wari- waria lain . “ Jakarta kota keras bu..jadi mesti pinter-pinter nyiasatin uang” , begitu katanya sambil memukul bahu salah satu temannya .

Tasya menceritakan beberapa pelanggan yang pernah ia layani, ada kala pria- pria tersebut kasar pada dirinya namun sejauh ini ia masih bisa menangani pria- pria nakal tersebut , “ aku malah bisa lebih galak loh dari mereka “ , seru tasya sambil tertawa .

Tasya memiliki penghasilan yang pas - pasan hampir setiap malam , setidaknya cukup untuk hidup 3 hari . ia tidak mengandalkan hidup dari penjajakan dirinya saat malam tiba di taman lawang, karena ia memiliki hidup lain di siang harinya .

Tasya tidak pernah tau sampai kapan ia akan menekuni hal seperti ini , “ entah sampai kapan mba.. “ tapi sepertinya ia yakin suatu saat ia akan mendapatkan hidup yang layak , dan sekarang yang ada dihadapan ia ikuti sambil melihat arus mana yang akan membawanya kekehidupan impiannya kelak.

P.S. terima kasih bapak Indiwan yang memberikan saya tugas fotografi, saya jadi banyak tau sisi kehidupan lain diJakarta, dan cermin pelajaran hidup untuk saya .

0 Response to " kaki jenjang si jantan " dan rok mini taman lawang (foto nyusul)

Posting Komentar