liputan RS.Omni cabut tuntutan pertada, M-5
RS.Omni cabut perdata, Prita harap cabut pidananya juga
Tangerang,setelah publik bergerak dengan mengumpulkan koin untuk prita, akhirnya RS Omni Internasional terketuk hati untuk mencabut gugatan perdatanya dipengadilan tangerang, pencabutan laporan ini sekaligus menghilangkan ganti rugi sebesar Rp 204 jt yang diputuskan pengadilan tinggi Banten atas Prita.
Selain itu Prita tidak perlu meminta maaf di media atas pencemaran nama baik RS.Omni
meski demikian penggitungan koin (14/12) akan berjalan dan tetap diserahkan pada prita, jumlah koin akan dihitung pagi ini di Jl Langsat, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
namun arus sumbangan berbentuk koin masih tetap mengalir dari penjuru Indonesia walaupun pos pengumpulan koin prita telah resmi ditutup jumat (11/12).
hal ini disambut baik kalangan Masyarakat, namun Prita tetap berharap selain tuntutan perdata yang hapus, tuntutan pidananya pun perlu diperhatikan, karena hal ini masih tetap satu kesatuan.nabilla
Tangerang,setelah publik bergerak dengan mengumpulkan koin untuk prita, akhirnya RS Omni Internasional terketuk hati untuk mencabut gugatan perdatanya dipengadilan tangerang, pencabutan laporan ini sekaligus menghilangkan ganti rugi sebesar Rp 204 jt yang diputuskan pengadilan tinggi Banten atas Prita.
Selain itu Prita tidak perlu meminta maaf di media atas pencemaran nama baik RS.Omni
meski demikian penggitungan koin (14/12) akan berjalan dan tetap diserahkan pada prita, jumlah koin akan dihitung pagi ini di Jl Langsat, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
namun arus sumbangan berbentuk koin masih tetap mengalir dari penjuru Indonesia walaupun pos pengumpulan koin prita telah resmi ditutup jumat (11/12).
hal ini disambut baik kalangan Masyarakat, namun Prita tetap berharap selain tuntutan perdata yang hapus, tuntutan pidananya pun perlu diperhatikan, karena hal ini masih tetap satu kesatuan.nabilla
liputan patung Obama kecil di menteng, M-5
Pro dan Kontra Patung Obama kecil
Menteng, Patung obama kecil diresmikan, Patung seharga 100 jt rupiah itu dihadiri surya paloh , walikota jakarta pusat silviana murni dan beberapa donatur lainnya , tinggi patung obama kecil itu 110 cm dan berat 30 kg,dan ditempatkan ditaman menteng jakarta pusat.
pembangunan patung buatan edi chaniago ini tidak mengandung unsur politik melainkan sebagai inspirasi bagi anak-anak bangsa.
menurut Sejarahwan Anhar Gonggong apa tidak berlebihan membuat patung Obama berumur 6 tahun yang saat itu belum memberikan kontribusi bagi negara, "Pikiran kita aneh, kenapa mesti Obama yang dipatungkan di sini? Saya bukan menolak itu. Tapi sebagai warga negara saya bertanya untuk apa patung itu. Ok-lah Obama pernah sekolah di sini. Apa karena pernah sekolah di sini lalu Obama didewakan di Indonesia?"
"Kalau dihargai orang hebat kita ada sekian ratus pahlawan nasional Seharusnya dirikan patung di sekolahnya saja sebagai tanda dia ada, karena Obama bukan lah bagian Indonesia" tandasnya.
nabilla
Menteng, Patung obama kecil diresmikan, Patung seharga 100 jt rupiah itu dihadiri surya paloh , walikota jakarta pusat silviana murni dan beberapa donatur lainnya , tinggi patung obama kecil itu 110 cm dan berat 30 kg,dan ditempatkan ditaman menteng jakarta pusat.
pembangunan patung buatan edi chaniago ini tidak mengandung unsur politik melainkan sebagai inspirasi bagi anak-anak bangsa.
menurut Sejarahwan Anhar Gonggong apa tidak berlebihan membuat patung Obama berumur 6 tahun yang saat itu belum memberikan kontribusi bagi negara, "Pikiran kita aneh, kenapa mesti Obama yang dipatungkan di sini? Saya bukan menolak itu. Tapi sebagai warga negara saya bertanya untuk apa patung itu. Ok-lah Obama pernah sekolah di sini. Apa karena pernah sekolah di sini lalu Obama didewakan di Indonesia?"
"Kalau dihargai orang hebat kita ada sekian ratus pahlawan nasional Seharusnya dirikan patung di sekolahnya saja sebagai tanda dia ada, karena Obama bukan lah bagian Indonesia" tandasnya.
nabilla
liputan buediono kantor antara , M-5
Boediono mengharapkan berita yang seimbang, didukung menkominfo
JAKARTA, boediono mengharapkan kesinergian pada media pendapat tersebut didukung oleh menkominfo Tifatul, saat ditemui dikesempatan yang sama, pemberitaan yang akhir-akhir ini yang menyudutkan Boediono dan Sri mulyani dianggap kurang berimbang.
"Kita punya RRI, TVRI, dan Antara. Perlu ada sinergi," kata Boediono saat memberikan sambutan di acara peringatan ulang tahun Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara di Wisma Antara, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (14/12/2009).
Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) Tifatul Sembiring setuju pada pendapat Wapres Boediono yang menilai media sekarang kurang menampilkan berita yang berimbang. Tifatul meminta agar keseimbangan pemberitaan perlu ditingkatkan.
Hal ini dikatakan Tifatul Sembiring ketika dimintai keterangan oleh wartawan usai menghadiri peringatan ulang tahun LKBN Antara di Wisma Antara, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (14/12/2009).nabilla
JAKARTA, boediono mengharapkan kesinergian pada media pendapat tersebut didukung oleh menkominfo Tifatul, saat ditemui dikesempatan yang sama, pemberitaan yang akhir-akhir ini yang menyudutkan Boediono dan Sri mulyani dianggap kurang berimbang.
"Kita punya RRI, TVRI, dan Antara. Perlu ada sinergi," kata Boediono saat memberikan sambutan di acara peringatan ulang tahun Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara di Wisma Antara, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (14/12/2009).
Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) Tifatul Sembiring setuju pada pendapat Wapres Boediono yang menilai media sekarang kurang menampilkan berita yang berimbang. Tifatul meminta agar keseimbangan pemberitaan perlu ditingkatkan.
Hal ini dikatakan Tifatul Sembiring ketika dimintai keterangan oleh wartawan usai menghadiri peringatan ulang tahun LKBN Antara di Wisma Antara, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (14/12/2009).nabilla
liputan jalan berlubang kramat jati, M-5
JALAN BERLUBANG,RAWAN KECELAKAAN
JAKARTA,Ruas jalan kramat jati kembali rusak tepat setelah carefourr Kramat jati, hal ini dikeluhkan warga sekitar termasuk penjual kaki lima yang berada di sejajaran pasar kramat jati, ukuran dan diameter jalan yang rusak memang tidak terlalu besar namun kedalamannya cukup parah sehingga mengganggu pengguna jalan terutama pengguna sepeda motor.
menurut isma warga sekitar keramat jati, "jalanan ini jadi rawan kecelakaan, meskipun sering macet tapi tak jarang motor kebut-kebutan dimalam hari dan tidak melihat aspal yang bolong-bolong tersebut", hal ini dipun dikeluhkan pengguna sepeda motor yang sore itu (15/12) melewati ruas jalan berlubang,"saya hampir jatuh, karena jalanan ini" tandas pak sofyan.
Masyarakat berharap pemda memperhatikan ruas jalan-jalan yang mengalami kerusakan karena beresiko rawan kecelakaan.nabilla
JAKARTA,Ruas jalan kramat jati kembali rusak tepat setelah carefourr Kramat jati, hal ini dikeluhkan warga sekitar termasuk penjual kaki lima yang berada di sejajaran pasar kramat jati, ukuran dan diameter jalan yang rusak memang tidak terlalu besar namun kedalamannya cukup parah sehingga mengganggu pengguna jalan terutama pengguna sepeda motor.
menurut isma warga sekitar keramat jati, "jalanan ini jadi rawan kecelakaan, meskipun sering macet tapi tak jarang motor kebut-kebutan dimalam hari dan tidak melihat aspal yang bolong-bolong tersebut", hal ini dipun dikeluhkan pengguna sepeda motor yang sore itu (15/12) melewati ruas jalan berlubang,"saya hampir jatuh, karena jalanan ini" tandas pak sofyan.
Masyarakat berharap pemda memperhatikan ruas jalan-jalan yang mengalami kerusakan karena beresiko rawan kecelakaan.nabilla
best friend...
kami ber 6 bersahabat dekat meski baru mengenal satu dengan yang lain saat memasuki bangku kuliah..aku, stella, echa, mpis, arya, angga, dan vena...cukup banyak waktu yang kami lewati bersama,,sebenernya dulu kami lebih dari ber6 dan menamakan diri THE LAYDIES sampe bikin kaos segala loh..ada okna,mala, heidi, ayu dan masih banyak lagi (aku lupa)...mungkin karena seleksi dunia kampus yang begitu ketat dan pergaulan yang semakin berkembang kali ya, maka satu persatu berguguran, jadi tinggal 6 orang yang selalu bersama...
cuma mau sedikit narsis ya...meski kami tidak terlalu terlihat pintar dan sama seperti mahasiswi kebanyakan namun kami dikampus adalah trend dalam pelajaran..contoh :kebanyakan saat mengerjakan tugas, kuis atau apapun yang diberikan dosen pasti sekelas minta bantuan kami, entah kenapa mereka selalu menanyakan pendapat kami...
adapun kami selalu dimintai tolong berpendapat tentang pakaian, make up, referensi majalah, dan absensi...yang terakhir suka gak enak ujungnya tuh,, sedikit memanfaatkan kebaikan yang meliputi jiwa-jiwa gadis seperti kami.
dunia perkuliahan adalah dunia berbeda dari masa-masa sebelumnya, cerita tentang gayanya jadi mahasiswi membuat kami merasa PD dengan title mahasiswi moestopo...walau kami mengakui seluk beluk dunia kampus yang kata orang individualis, namun kami merasa tetap berbeda dibanding teman-teman kami yang mengalami transisi SMA ke kampus...mungkin karena persahabatan yangcukup erat sehingga sikap saat masa SMA tetap terbawa , contoh :saling mengingatkan kalau ada tugas, patungan buat beliin kado temen yg ultah, wajib traktir klo ultah, selalu berjalan bersama, kadang (dulu) masih awal masuk kampus malu masuk sendiri, pete-pete kalo temen gak punya duit (diperuntukan untuk gw)dan masih banyak lagi.
tapi hal-hal sepele itu yang membuat kami semakin dekat, meski aku akui bahwa akhir-akhir ini karena harus terpisah karena jurusan yang berbeda kami jadi jarang bertemu, sesekali kami sempatkan saling berbincang atau hanya sekedar makan dan nonton...
kedewasaan tetap lah kedewasaan ...begitu pula kami, meski aku pribadi tidak ingin terpisah dengan masa ini, namun jam terus berputar dan kami akan menyongsong dunia baru yakni dunia pekerjaan...
semua itu membuatku senang campur kangen dengan hal-hal konyol yang dulu pernah kami lewati bersama.
huah...kebanyakan cerita, pasti pengen tau kan karakter seperti apa yang dimiliki masing-masing the ladyes ini.(menurut versi nabilla, jadi jangan ada yg protes)
stella : wanita gesit yang berisi namun kegesitannya membuat riweh atau ribet dirinya sendiri dan orang lain, dan sedikit pemarah dipanggil 'mam' sama yang lain.selektif dalam bertindak, pendengar yang baik
vena : wanita uptodate (segala informasi apapun itu dia pasti tau) mata elang (widih klo ada cwo langsung nengok otomatis, tapi gak dinikmati sendiri, pasti dia manggil yang lain buat sam2 ngeliatin tu cwo ganteng) dan memiliki tipikal badan yang ramping..
echa :terlihat seperti alisa subandono hahahaha...bae orangnya, gak enakan ama orang, lebih berfikir dewasa aja..sebagai bukti dia lebih toku (pikirannya) dia sudah menyelesaikan sidang PKLnya..punya cita2 cepet kerja biar bisa bantu ortunya.
mpis :wanita polos yang katanya belum ...........dari lahir(sori disensor takut orangnya marah), mungkin yang patut dilindungi dan di bimbing adalah mpis oleh yang lain karena kebocahannya mengkhawatirkan takut di bego2in orang lain...care bet
angga : wanita berkerudung yang baik hati walau terkadang omongan nya yang saiko membuat kami takut tapi she is smart..peduli, namun jalannya lambat (pasangan dah sama mpis)
arya : kalau yang satu ini gak usah di ceritain dah...hehehehehe bcanda deng arya ku sayang, ni anak tahan banting banget, rame, heboh, suara kaya toa, wah klo ada dia bisa ketawa2 sekaligus malu abis klo ngomong geda banget ..sekampus bisa denger dah..
yup yup yup...itu lah sedikit karakter temen-teman aku yang seru-seru...dunia remaja, masa muda, have fun namun tetep positif, aku gak tau deh klo gak ada mereka mungkin dunia 'mahasiswiku' akan lurus-lurus aja,,gak ada grafik kebahagiaan..thx my friend...i love u all
ini yang disebut sahabat gak pernah pamrih
cuma mau sedikit narsis ya...meski kami tidak terlalu terlihat pintar dan sama seperti mahasiswi kebanyakan namun kami dikampus adalah trend dalam pelajaran..contoh :kebanyakan saat mengerjakan tugas, kuis atau apapun yang diberikan dosen pasti sekelas minta bantuan kami, entah kenapa mereka selalu menanyakan pendapat kami...
adapun kami selalu dimintai tolong berpendapat tentang pakaian, make up, referensi majalah, dan absensi...yang terakhir suka gak enak ujungnya tuh,, sedikit memanfaatkan kebaikan yang meliputi jiwa-jiwa gadis seperti kami.
dunia perkuliahan adalah dunia berbeda dari masa-masa sebelumnya, cerita tentang gayanya jadi mahasiswi membuat kami merasa PD dengan title mahasiswi moestopo...walau kami mengakui seluk beluk dunia kampus yang kata orang individualis, namun kami merasa tetap berbeda dibanding teman-teman kami yang mengalami transisi SMA ke kampus...mungkin karena persahabatan yangcukup erat sehingga sikap saat masa SMA tetap terbawa , contoh :saling mengingatkan kalau ada tugas, patungan buat beliin kado temen yg ultah, wajib traktir klo ultah, selalu berjalan bersama, kadang (dulu) masih awal masuk kampus malu masuk sendiri, pete-pete kalo temen gak punya duit (diperuntukan untuk gw)dan masih banyak lagi.
tapi hal-hal sepele itu yang membuat kami semakin dekat, meski aku akui bahwa akhir-akhir ini karena harus terpisah karena jurusan yang berbeda kami jadi jarang bertemu, sesekali kami sempatkan saling berbincang atau hanya sekedar makan dan nonton...
kedewasaan tetap lah kedewasaan ...begitu pula kami, meski aku pribadi tidak ingin terpisah dengan masa ini, namun jam terus berputar dan kami akan menyongsong dunia baru yakni dunia pekerjaan...
semua itu membuatku senang campur kangen dengan hal-hal konyol yang dulu pernah kami lewati bersama.
huah...kebanyakan cerita, pasti pengen tau kan karakter seperti apa yang dimiliki masing-masing the ladyes ini.(menurut versi nabilla, jadi jangan ada yg protes)
stella : wanita gesit yang berisi namun kegesitannya membuat riweh atau ribet dirinya sendiri dan orang lain, dan sedikit pemarah dipanggil 'mam' sama yang lain.selektif dalam bertindak, pendengar yang baik
vena : wanita uptodate (segala informasi apapun itu dia pasti tau) mata elang (widih klo ada cwo langsung nengok otomatis, tapi gak dinikmati sendiri, pasti dia manggil yang lain buat sam2 ngeliatin tu cwo ganteng) dan memiliki tipikal badan yang ramping..
echa :terlihat seperti alisa subandono hahahaha...bae orangnya, gak enakan ama orang, lebih berfikir dewasa aja..sebagai bukti dia lebih toku (pikirannya) dia sudah menyelesaikan sidang PKLnya..punya cita2 cepet kerja biar bisa bantu ortunya.
mpis :wanita polos yang katanya belum ...........dari lahir(sori disensor takut orangnya marah), mungkin yang patut dilindungi dan di bimbing adalah mpis oleh yang lain karena kebocahannya mengkhawatirkan takut di bego2in orang lain...care bet
angga : wanita berkerudung yang baik hati walau terkadang omongan nya yang saiko membuat kami takut tapi she is smart..peduli, namun jalannya lambat (pasangan dah sama mpis)
arya : kalau yang satu ini gak usah di ceritain dah...hehehehehe bcanda deng arya ku sayang, ni anak tahan banting banget, rame, heboh, suara kaya toa, wah klo ada dia bisa ketawa2 sekaligus malu abis klo ngomong geda banget ..sekampus bisa denger dah..
yup yup yup...itu lah sedikit karakter temen-teman aku yang seru-seru...dunia remaja, masa muda, have fun namun tetep positif, aku gak tau deh klo gak ada mereka mungkin dunia 'mahasiswiku' akan lurus-lurus aja,,gak ada grafik kebahagiaan..thx my friend...i love u all
ini yang disebut sahabat gak pernah pamrih
liputan bandung PT.primajasa peduli pendidikan 13/12
Bandung,minggu (13/12) PT.Primajasa sebagai angkutan umum antar kota antar propinsi penyelenggara peduli pendidikan terhadap siswa siswi tingkatan TK, SMP, SMU setingkat, dan Universitas yang terdiri dari 60% karyawan dan 40% masyarakat umum wilayah jawa barat, dari beberapa tingkatan diketahui hanya universitas yang bersyaratkan Universitas Negri dan memiliki IPK 3,25.Sedangkan tingkatan lainnya diseleksi menurut tingkat indeks prestasi siswa siswi nya.
menurut H.Amir Mahfud selaku direktur PT.Primajasa beasiswa kali ini diberikan pada kurang lebih 500 siswa yang berada di 3 propinsi yakni DKI, Banten, Jawa Barat.Dan dana yang disediakan untuk beasiswa mencapai 1 miliar yang bersumber dari keuntungan Primajasa dan juga beberapa sponsor yang mendukung terselenggaranya acara.
acara yang diselenggarakan di gedung Sabuga (Sasana Budaya Ganesha) JL.taman sari no 73 bandung ini dihadiri wakil mentri perhubungan Bambang S.dalam kesempatan sambutanya beliau menyampaikan pentingnya kepedulian sesama yang tergagas dari perusahaan angkutan umum swasta sebagai contoh untuk perusahaan angkutan lainnya.
PT.Primajasa sendiri hadir sejak tahun 1991 dibawah naungan PT.Mayasari group dan sudah 18 tahun memberikan besiswa kepada tunas bangsa yang berprestasi meski dulu dalam sekala kecil.perusahaan yang memiliki 1000 unit bus yang tersebar di 50 depo ini merencanakan perbaikan pelayanan terutama saat menjelang libur nasional 2010, mengingat jumlah penumpang yang selalu bertambah setiap tahunnya.
Hadir wajah muda di perusahaan swasta ini, Mahasiswa SBM ITB sebagai president PT. Primajasa Foundation, Tiar Nabila (19), harapannya untuk kedepan kegiatan sosial masyarakat seperti ini menjadikan motivasi bagi penerima besiswa agar lebih berprestasi dan bermanfaat untuk masyarakat keseluruhan pada umumnya, dan para karyawan PT.Primajasa pada khususnya.(nabilla)
menurut H.Amir Mahfud selaku direktur PT.Primajasa beasiswa kali ini diberikan pada kurang lebih 500 siswa yang berada di 3 propinsi yakni DKI, Banten, Jawa Barat.Dan dana yang disediakan untuk beasiswa mencapai 1 miliar yang bersumber dari keuntungan Primajasa dan juga beberapa sponsor yang mendukung terselenggaranya acara.
acara yang diselenggarakan di gedung Sabuga (Sasana Budaya Ganesha) JL.taman sari no 73 bandung ini dihadiri wakil mentri perhubungan Bambang S.dalam kesempatan sambutanya beliau menyampaikan pentingnya kepedulian sesama yang tergagas dari perusahaan angkutan umum swasta sebagai contoh untuk perusahaan angkutan lainnya.
PT.Primajasa sendiri hadir sejak tahun 1991 dibawah naungan PT.Mayasari group dan sudah 18 tahun memberikan besiswa kepada tunas bangsa yang berprestasi meski dulu dalam sekala kecil.perusahaan yang memiliki 1000 unit bus yang tersebar di 50 depo ini merencanakan perbaikan pelayanan terutama saat menjelang libur nasional 2010, mengingat jumlah penumpang yang selalu bertambah setiap tahunnya.
Hadir wajah muda di perusahaan swasta ini, Mahasiswa SBM ITB sebagai president PT. Primajasa Foundation, Tiar Nabila (19), harapannya untuk kedepan kegiatan sosial masyarakat seperti ini menjadikan motivasi bagi penerima besiswa agar lebih berprestasi dan bermanfaat untuk masyarakat keseluruhan pada umumnya, dan para karyawan PT.Primajasa pada khususnya.(nabilla)
liputan tgl 10/12 walikota depok
Jamkesmas sudah tidak berfungsi lagi
Depok, Kamis10/12 ,Rakyat miskin kota depok yang di motori DKR (Dewan Kesehatan Rakyat) datang bersama massanya yang mayoritas ibu-ibu dan anak-anak ke kantor walikota, dengan 4 tuntutan yakni 1. menolak penggatian jamkesmas dengan sistem yang lain (asuransi) 2.mendukung jamkesda sama dengan jamkesmas 3.pemkot depok segera melunasi hutang kepada rumah sakit –rumah sakit 4.10% minimal anggaran APBD kota depok untuk kesehatan (porsi lebih besar buat SKTM)
Menurut Roy pangharapan (ketua DKR kota depok)apabila dibiarkan jamkesmas diganti dengan asuransi maka raykat miskin kota depok sulit untuk mendapatkan tindakan medis yang layak, karena mereka akan dikenakan biaya Rp 4000/ kepala,hal ini sangat disayangkan, apa lagi dengan hadirnya jamkesda yang hanya mencakup wilayah daerah saja.Namun DKR tidak menolak adanya jamkesda selama masih sama dengan jamkesmas.
Ada pun SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) yang diberikan pada warga miskin namun hanya menanggung 20% sampai 70% saja, bila dicermati 30% sisa dari tunjangan yang diberikan masih belum mampu ditutupi oleh pemegang kartu karena mahalnya biaya pengobatan saat ini.
Status jamkesmas saat ini memang masih diberlakukan. Beberapa pengguna jamkesmas pun mengeluhkan rumah sakit yang menolak keberadaan mereka dengan alasan pemeritahan kota depok belum melunasi biaya rumah sakit.
Dalam hal ini DKR ingin langsung menyuarakan 4 tuntutannya ke Bapak Walikota langsung namun beliau tidak ada ditempat, merekan pun menyesali hal tersebut karena yang dapat memutuskan masalah ini adalah pemimpin Kota depok itu sendiri, dan demonstrasi pun berlanjut mengarah ke DPRD dengan tuntutan yang sama.nabilla
dimuat di poskota tanggal 11 desember 2009, rubrik megapolitan
awalnya cuma coba-coba
wah surprice sekali hari ini...aku preper lamaran ke dua media massa jakarta, namun aku lebih yakin pada salah satu media saja karena itu adalah rekomendasi dari dosenku,
aku yang mulanya mengenal bang rizal (wartawan senior poskota) lalu kami sempat tukeran nomer dan fb sampai akhirnya aku putuskan untuk melamar ke poskota..namun keinginan itu tidak sebesar , harapan diterima juga tidak tinggi karena aku tau poskota bukan sembarang media,
namun hari ini aku yang telam mempersiapkan surat lamaran dan tektek bengeknya, mengantarkan sendiri durat lamaran ke kantor redaksi poskota jl gajah mada jakarta, aku bertemu pak soesilo yang nota bene adalah sekertaris direksi poskota juga teman dari bang rizal siregar, aku tidak tau pengaruh besar apa nama bang rizal sehingga ketika aku bilang aku adalah rekomendasi dia maka aku dipersilahkan masuk juga langsung diinterview , akhirnya putusan mereka aku disuruh menghubungi bang nasrul pemegang wilayah depok bangian kriminal; aku bahkan ditanya kapan mau mulai kerja, sampai ditanyakan hari apa yang tidak mengganggu kuliahku..wah enak sekali yak...
di poskota aku tidak perlu datang untuk memberikan tulisanku ,aku cukup mengirimkannya lewat email,,aku sangat senang hari ini,, impianku tercapai dan aku tidak sabar menunggu perintah reportase selanjutnya....
aku yang mulanya mengenal bang rizal (wartawan senior poskota) lalu kami sempat tukeran nomer dan fb sampai akhirnya aku putuskan untuk melamar ke poskota..namun keinginan itu tidak sebesar , harapan diterima juga tidak tinggi karena aku tau poskota bukan sembarang media,
namun hari ini aku yang telam mempersiapkan surat lamaran dan tektek bengeknya, mengantarkan sendiri durat lamaran ke kantor redaksi poskota jl gajah mada jakarta, aku bertemu pak soesilo yang nota bene adalah sekertaris direksi poskota juga teman dari bang rizal siregar, aku tidak tau pengaruh besar apa nama bang rizal sehingga ketika aku bilang aku adalah rekomendasi dia maka aku dipersilahkan masuk juga langsung diinterview , akhirnya putusan mereka aku disuruh menghubungi bang nasrul pemegang wilayah depok bangian kriminal; aku bahkan ditanya kapan mau mulai kerja, sampai ditanyakan hari apa yang tidak mengganggu kuliahku..wah enak sekali yak...
di poskota aku tidak perlu datang untuk memberikan tulisanku ,aku cukup mengirimkannya lewat email,,aku sangat senang hari ini,, impianku tercapai dan aku tidak sabar menunggu perintah reportase selanjutnya....
a million, good movie
yang ini satu lagi film mantab, dari korea... 8 orang harus bertahan dalam hutan di acara survival dan memperebutkan 10 miliar, namun semua harus mati dan hanya menyisakan 1 orang pemenang, ternyata mereka bukan kebetulan ada di acara tersebut...kenapa mereka direkrut untuk ikut acara yang mengorbakan banyak nyawa...nonton dong
long weekend, good movie
widih ini i film keren satu lagi,, saat bermusuhan engan alam maka alampun akan murka,
pasangan yang merencanakan liburan di pantai pribadi dengan teman-temannya namun karena suatu hal teman2nya menyusul, apa yang terjadi pada mereka hanya berputar-putar di satu wilayang yang tanpa penghuni konflik pun terjadi hingga mereka tidak lagi harmonis dan terus saling membenci, sampai dihari berikutnya merekapun memutuskan untuk pulang dan mereka pun tidak pernah bisa pulang
dosen pemegang otorita tertinggi dikelas,what?
nilai produksi radio ku hanya 64 saja padahal ketika ujian itu dimulai aku merasa yakin dengan seluruh jawabanku, tapi kenapa hasil yang didapat cuma segitu saja, saat masuk kelas setelah ujian kutanyakan hal tersebut ke dosan radio ku, aku meminta kertas ujian dibagikan
tau apa yang terjadi , dosenku tersebut menolak permintaanku, dia bilang "kamu boleh liat kertas hasil ujianmu, tapi nilai kamu harus dikurang", bila nilai mu nanti lebih tinggi dari yang ditulis tetap nilaimu akan saya kurangi, lalu aku pun bertanya "kenapa pak?", "karena kamu sudah tidak percaya lagi sama saya", (ada faktor ketidak percayaan) jawaban yang tidak pantas diucapkan oleh seorang dosen yang notabene contoh untuk mahasiswanya.
secara logika jawaban yang ada di kertas ujian ada alah tulisan saya ebagai mahasiswa dan saya berhak melihat tulisan saya, sebagai bentuk koreksi bukan berarti tidak mempercayai cara kerja koreksi dosen tersebuk, karena tidak ada satupun manusia yang sempurna dan tidak melakukan kesalahan,
penolakan pun semakin gencar ditumpahkan didepan mukaku, ada sekitar 25 menit aku berdiri didepan dosen sambil mempertanyakan tindakan dosenku tersebut, ia malah berkata" kamu cuma mahasiswa, saya memiliki otoritas tinggi dikelas bukan kamu"
kata-yang sangat sombong berbanding terbalik dengan icon pengajar yang mengayomi muridnya
memang tidak semua dosen seperti aia , cuma saya tidak habis pikir kenapa tranparansi dan demokratis dalam penilaian tidak ada dibenak dosen yang satu ini, lagi pula ini bukan sekolah lagi yang dimana murid akan selalu didikte pengajarnya , ini kampus dan mahasiswa sudah dewasa!!
peluang kolusi dan nepotisme semakin besar bila semua pengajar berpikir sama seperti dosen radioku
tau apa yang terjadi , dosenku tersebut menolak permintaanku, dia bilang "kamu boleh liat kertas hasil ujianmu, tapi nilai kamu harus dikurang", bila nilai mu nanti lebih tinggi dari yang ditulis tetap nilaimu akan saya kurangi, lalu aku pun bertanya "kenapa pak?", "karena kamu sudah tidak percaya lagi sama saya", (ada faktor ketidak percayaan) jawaban yang tidak pantas diucapkan oleh seorang dosen yang notabene contoh untuk mahasiswanya.
secara logika jawaban yang ada di kertas ujian ada alah tulisan saya ebagai mahasiswa dan saya berhak melihat tulisan saya, sebagai bentuk koreksi bukan berarti tidak mempercayai cara kerja koreksi dosen tersebuk, karena tidak ada satupun manusia yang sempurna dan tidak melakukan kesalahan,
penolakan pun semakin gencar ditumpahkan didepan mukaku, ada sekitar 25 menit aku berdiri didepan dosen sambil mempertanyakan tindakan dosenku tersebut, ia malah berkata" kamu cuma mahasiswa, saya memiliki otoritas tinggi dikelas bukan kamu"
kata-yang sangat sombong berbanding terbalik dengan icon pengajar yang mengayomi muridnya
memang tidak semua dosen seperti aia , cuma saya tidak habis pikir kenapa tranparansi dan demokratis dalam penilaian tidak ada dibenak dosen yang satu ini, lagi pula ini bukan sekolah lagi yang dimana murid akan selalu didikte pengajarnya , ini kampus dan mahasiswa sudah dewasa!!
peluang kolusi dan nepotisme semakin besar bila semua pengajar berpikir sama seperti dosen radioku
makna profesi wartawan dan kode etika jurnalistik part 2
Untuk dapat menjalani profesi wartawan yang benar, serius, sungguh-sungguh, Anda harus memenuhi tiga hal. Bolehlah kita sebut sebagai "trilogi jurnalisme". Pertama, Anda harus profesional. Bukan hanya wartawan, semua profesi, jabatan, pekerjaan, sesungguhnya harus dikerjakan secara profesional. Wartawan yang profesional ialah yang memahami tugasnya, yang memiliki skill (ketrampilan), seperti melakukan reportase, wawancara, dan menulis berita atau feature yang bagus dan akurat, dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Jika Anda tidak mampu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, bisa disebut tidak profesional.
Tapi, profesional saja tidaklah cukup. Anda harus mengenal apa yang disebut integritas, kejujuran, dalam pengertian bahwa sebagai wartawan Anda harus jujur (dan paham) terhadap profesi, menyadari jati diri Anda sebagai kepanjangan tangan dari aspirasi publik, kepada siapa Anda seharusnya bertanggung jawab secara moral. Profesional dan punya integritas belum lengkap jika Anda tidak memiliki sikap independen, sebagai bagian yang integral dari "trilogi jurnalisme," yaitu profesional, integritas dan independen, tidak berpihak, obyektif, dan hanya berpihak atau bertanggung jawab kepada publik.
Karena bertanggung jawab kepada publik, dan oleh karena itu harus independen, maka jadilah pers dan dengan demikian juga wartawan merupakan the fourth estate (pilar keempat) dalam negara yang menganut sistem demokrasi selain eksekutif, legislatif dan yudikatif. Jika pilar demokrasi ciptaan Jean Jacques Rousseau yang disebut trias politica itu saling mengontrol satu sama lain, sehingga terjadi check and balance, maka pers sebagai pilar keempat berperan sebagai "anjing penjaga" (watch dog) agar check and balances dalam sistem demokrasi itu berjalan dengan seharusnya.
KODE ETIK JURNALISTIK
HASIL KONGRES XXII
Nangroe Aceh Darusalam, 28-29 Juli 2008
(Draft awal adalah keputusan Konkernas PWI 4 – 10 Juli 2007 di Jayapura, Papua).
PEMBUKAAN Bahwa sesungguhnya salah satu perwujudan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah kemerdekaan mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan sebagaimana diamanatkan oleh pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945. Oleh sebab itu kemerdekaan pers wajib dihormati oleh semua pihak.
Mengingat Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara berda¬sarkan atas hukum, seluruh wartawan Indonesia menjun¬jung tinggi konstitusi dan menegakkan kemerdekaan pers yang bertanggung jawab, mematuhi norma-norma profesi kewartawanan, memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa, serta memperjuangkan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial berdasar¬kan Pancasila.
Maka atas dasar itu, demi tegaknya harkat, martabat, integritas, dan mutu kewartawanan Indonesia serta bertumpu pada kepercayaan masyarakat, dengan ini Persatuan Wartawan Indonesia(PWI) menetapkan Kode Etik Jurnalistik yang harus ditaati dan dilaksanakan oleh seluruh wartawan Indonesia.
Apabila nama dan identitas sumber berita tidak disebutkan, segala tanggung jawab ada pada wartawan yang bersangkutan.
Tidak satu pihakpun di luar PWI yang dapat mengambil tindakan terhadap wartawan Indonesia dan atau medianya berdasarkan pasal-pasal dalam Kode Etik Jurnalistik ini
kesimpulan
bahwa sesungguhnya siapa saja bisa menjadi wartawan, profesi yang luas dilakukan warga sipil sebagai penyambung informasi namun sama seperti sebuah negara yang membutuhkan undang-udang makan wartawan juga memerlukan kote etik jurnalistik.berfungsi sebagai patokan dalam menjalani profesinya
Tapi, profesional saja tidaklah cukup. Anda harus mengenal apa yang disebut integritas, kejujuran, dalam pengertian bahwa sebagai wartawan Anda harus jujur (dan paham) terhadap profesi, menyadari jati diri Anda sebagai kepanjangan tangan dari aspirasi publik, kepada siapa Anda seharusnya bertanggung jawab secara moral. Profesional dan punya integritas belum lengkap jika Anda tidak memiliki sikap independen, sebagai bagian yang integral dari "trilogi jurnalisme," yaitu profesional, integritas dan independen, tidak berpihak, obyektif, dan hanya berpihak atau bertanggung jawab kepada publik.
Karena bertanggung jawab kepada publik, dan oleh karena itu harus independen, maka jadilah pers dan dengan demikian juga wartawan merupakan the fourth estate (pilar keempat) dalam negara yang menganut sistem demokrasi selain eksekutif, legislatif dan yudikatif. Jika pilar demokrasi ciptaan Jean Jacques Rousseau yang disebut trias politica itu saling mengontrol satu sama lain, sehingga terjadi check and balance, maka pers sebagai pilar keempat berperan sebagai "anjing penjaga" (watch dog) agar check and balances dalam sistem demokrasi itu berjalan dengan seharusnya.
HASIL KONGRES XXII
Nangroe Aceh Darusalam, 28-29 Juli 2008
(Draft awal adalah keputusan Konkernas PWI 4 – 10 Juli 2007 di Jayapura, Papua).
PEMBUKAAN Bahwa sesungguhnya salah satu perwujudan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah kemerdekaan mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan sebagaimana diamanatkan oleh pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945. Oleh sebab itu kemerdekaan pers wajib dihormati oleh semua pihak.
Mengingat Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara berda¬sarkan atas hukum, seluruh wartawan Indonesia menjun¬jung tinggi konstitusi dan menegakkan kemerdekaan pers yang bertanggung jawab, mematuhi norma-norma profesi kewartawanan, memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa, serta memperjuangkan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial berdasar¬kan Pancasila.
Maka atas dasar itu, demi tegaknya harkat, martabat, integritas, dan mutu kewartawanan Indonesia serta bertumpu pada kepercayaan masyarakat, dengan ini Persatuan Wartawan Indonesia(PWI) menetapkan Kode Etik Jurnalistik yang harus ditaati dan dilaksanakan oleh seluruh wartawan Indonesia.
BAB I
KEPRIBADIAN DAN INTEGRITAS
KEPRIBADIAN DAN INTEGRITAS
Pasal 1
Wartawan Indonesia beriman dan bertaqwa kepada tuhan Yang Maha Esa, berjiwa Pancasila, taat kepada undang-undang Dasar Negara RI, kesatria, menjunjung harkat, martabat manusia dan lingkungannya, mengabdi kepada kepentingan bangsa dan negara serta terpercaya dalam mengemban profesinya. Pasal 2
Wartawan Indonesia dengan penuh rasa tanggung jawab dan bijaksana mempertimbangkan patut tidaknya menyiarkan karya jurnalistik (tulisan, suara, serta suara dan gambar) yang dapat membahayakan keselamatan dan keamanan negara, persatuan dan kesatuan bangsa, menyinggung perasaan agama, kepercayaan atau keyakinan suatu golongan yang dilindungi oleh undang-undang. Pasal 3
Wartawan Indonesia pantang menyiarkan karya jurnallistik (tulisan, suara, serta suara dan gambar) yang menyesatkan memutar balikkan fakta, bersifat fitnah, cabul serta sensasional. Pasal 4
Wartawan Indonesia menolak imbalan yang dapat mempengaruhi obyektivitas pemberitaan.BAB II
CARA PEMBERITAAN DAN MENYATAKAN PENDAPAT
CARA PEMBERITAAN DAN MENYATAKAN PENDAPAT
Pasal 5
Wartawan Indonesia menyajikan berita secara berimbang dan adil, mengutamakan kecermatan dari kecepatan serta tidak mencampur adukkan fakta dan opini sendiri. Karya jurnalistik berisi interpretasi dan opini wartawan, agar disajikan dengan menggunakan nama jelas penulisnya. Pasal 6
Wartawan Indonesia menghormati dan menjunjung tinggi kehidupan pribadi dengan tidak menyiarkan karya jurnalistik (tulisan, suara, serta suara dan gambar) yang merugikan nama baik seseorang, kecuali menyangkut kepentingan umum. Pasal 7
Wartawan Indonesia dalam memberitakan peristiwa yang diduga menyangkut pelanggaran hukum atau proses peradilan harus menghormati asas praduga tak bersalah, prinsip adil, jujur, dan penyajian yang berimbang. Pasal 8
Wartawan Indonesia dalam memberitakan kejahatan susila (asusila) tidak merugikan pihak korban.BAB III
SUMBER BERITA
Wartawan Indonesia menempuh cara yang sopan dan terhormat untuk memperoleh bahan karya jurnalistik (tulisan, suara, serta suara dan gambar) dan selalu menyatakan identitasnya kepada sumber berita. SUMBER BERITA
Pasal 10
Wartawan Indonesia dengan kesadaran sendiri secepatnya mencabut atau meralat setiap pemberitaan yang kemudian ternyata tidak akurat, dan memberi kesempatan hak jawab secara proporsional kepada sumber atau obyek berita. Pasal 11
Wartawan Indonesia meneliti kebenaran bahan berita dan memperhatikan kredibilitas serta kompetensi sumber berita. Pasal 12
Wartawan Indonesia tidak melakukan tindakan plagiat, tidak mengutip karya jurnalistik tanpa menyebut sumbernya. Pasal 13
Wartawan Indonesia harus menyebut sumber berita, kecuali atas permintaan yang bersangkutan untuk tidak disebut nama dan identitasnya sepanjang menyangkut fakta dan data bukan opini. Apabila nama dan identitas sumber berita tidak disebutkan, segala tanggung jawab ada pada wartawan yang bersangkutan.
Pasal 14
Wartawan Indonesia menghormati ketentuan embargo, bahan latar belakang, dan tidak menyiarkan informasi yang oleh sumber berita tidak dimaksudkan sebagai bahan berita serta tidak menyiarkan keterangan "off the record".BAB IV
KEKUATAN KODE ETIK JURNALISTIK
KEKUATAN KODE ETIK JURNALISTIK
Pasal 15
Wartawan Indonesia harus dengan sungguh-sungguh menghayati dan mengamalkan Kode Etik Jurnalistik PWI (KEJ-PWI) dalam melaksanakan profesinya. Pasal 16
Wartawan Indonesia menyadari sepenuhnya bahawa penaatan Kode Etik Jurnalistik ini terutama berada pada hati nurani masing-masing. Pasal 17
Wartawan Indonesia mengakui bahwa pengawasan dan penetapan sanksi atas pelanggaran Kode Etik Jurnalistik ini adalah sepenuhnya hak organisasi dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan dilaksanakan oleh Dewan Kehormatan PWI.Tidak satu pihakpun di luar PWI yang dapat mengambil tindakan terhadap wartawan Indonesia dan atau medianya berdasarkan pasal-pasal dalam Kode Etik Jurnalistik ini
kesimpulan
bahwa sesungguhnya siapa saja bisa menjadi wartawan, profesi yang luas dilakukan warga sipil sebagai penyambung informasi namun sama seperti sebuah negara yang membutuhkan undang-udang makan wartawan juga memerlukan kote etik jurnalistik.berfungsi sebagai patokan dalam menjalani profesinya
makna profesi wartawan dan kode etika jurnalistik part 1
Standar pokok seorang wartawan
Ada yang bertanya, sekarang banyak wartawan asal tulis atau tulisannya tidak akurat. Salah satunya karena banyak media yang tidak selektif dalam merekrut wartawan. Yang jadi pertanyaan: standar profesi wartawan itu apa saja?Memang, menjadi wartawan, apalagi membuat koran, tidak bisa “asal jadi” atau “asal terbit”. Seorang wartawan andal dan profesional mesti memiliki tiga kriteria berikut ini. Sebuah penerbitan pers juga hendaknya hanya merekrut wartawan yang memiliki kualifikasi tiga hal berikut ini.
Pertama, menguasai keterampilan jurnalistik.
Seorang wartawan mesti memiliki keahlian (expertise) menulis berita sesuai kaidah-kaidah jurnalistik. Ia harus menguasai teknik menulis berita, juga feature dan artikel. Untuk itu, seorang wartawan mestilah orang yang setidaknya pernah mengikuti pelatihan dasar jurnalistik. Ia harus well trained, terlatih dengan baik.
Keterampilan jurnalistik meliputi antara lain teknik pencarian berita dan penulisannya, di samping pemahaman yang baik tentang makna sebuah berita. Ia harus memahami apa itu berita, nilai berita, macam-macam berita, bagaimana mencarinya, dan kaidah umum penulisan berita.
Kedua, menguasai bidang liputan (beat).
Idealnya, wartawan menjadi seorang “generalis”, memahami dan menguasai segala hal, sehingga mampu menulis dengan baik dan cermat apa saja. Namun, yang terpenting ia harus menguasai bidang liputan dengan baik. Wartawan olahraga harus menguasai istilah-istilah atau bahasa dunia olahraga. Wartawan ekonomi harus memahami teori-teori dan istilah ekonomi. Demikian seterusnya.
Jika Anda seorang lulusan jurusan ekonomi, lalu ditugaskan meliput peristiwa olahraga, maka langkah pertama adalah mengenali dan mempelajari dunia olahraga, juga istilah-istilah yang berlaku di dunia itu. Jika Anda tidak menguasai masalah hukum, jangan dulu maju meliput kegiatan di pengadilan sebelum Anda memahami –paling tidak– istilah-istilah hukum. Jika memaksakan diri, kemungkinan Anda akan salah tulis, salah tangkap, alias tidak cermat dalam menulis berita.
Jika Anda akan menulis berita keagamaan (Islam), kuasai dulu istilah-istilah Islam. Jangan sampai Anda –sekadar contoh– menulis “Saw” di belakang “Allah” dan “SWT” di belakang “Nabi Muhammad”.
Ketiga, memahami serta mematuhi etika jurnalistik.
Wartawan yang baik (baca: profesional) memegang teguh etika jurnalistik. Istilah Islamnya, harus seorang yang berakhlaqul karimah sesuai nilai-nilai Islam.
Untuk wartawan Indonesia, etika itu terangkum dalam Kode Etik Wartawan Indonesia (KEWI) yang sudah ditetapkan Dewan Pers sebagai Kode Etik Jurnalistik bagi para wartawan di Indonesia. Kepatuhan pada kode etik merupakan salah satu ciri profesionalisme, di samping keahlian, keterikatan, dan kebebasan.
Dengan pedoman kode etik itu, seorang wartawan tidak akan mencampuradukkan antara fakta dan opini dalam menulis berita; tidak akan menulis berita fitnah, sadis, dan cabul; tidak akan “menggadaikan kebebasannya” dengan menerima amplop; hanya menginformasikan yang benar atau faktual; dan sebagainya.
Kebebasan pers
Kebebasan pers adalah bagian dari hak asasi manusia. UUD 45 pasal 28 berbunyi: “Setiap orang berhak berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.” Jadi pengertiannya luas sekali. Meski begitu kita juga pernah mengalami penindasan, kecurigaan, dan alasan-alasan lain yang terlalu jelas. Intinya: pers dibungkam. Jadi isunya adalah soal kebebasan pers dan mendapatkan informasi. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan kebebasan pers dan mendapatkan informasi itu?
Dalam kondisi seperti itulah dibutuhkan pers yang secara bebas dapat mewakili publik untuk mengakses informasi. Dari sinilah bermula apa yang disebut “pers bebas” (free press) atau “kebebasan pers” (freedom of the press) sebagai syarat mutlak bagi sebuah negara yang demokratis dan terbuka. Begitu pentingnya freedom of the press tersebut, sehingga Thomas Jefferson, presiden ketiga Amerika Serikat (1743 – 1826), pada tahun 1802 menulis, “Seandainya saya diminta memutuskan antara pemerintah tanpa pers, atau pers tanpa pemerintah, maka tanpa ragu sedikit pun saya akan memilih yang kedua.” Padahal, selama memerintah ia tak jarang mendapat perlakuan buruk dari pers AS
Untuk pertama kalinya dalam sejarah pers Indonesia, kebebasan pers baru diakui secara konstitusional setelah 54 tahun Indonesia merdeka secara politik, yaitu dalam UU Nomor 40/1999 tentang Pers. Meskipun demikian, pengertian kebebasan pers belum dimengerti secara merata oleh publik Indonesia. Bahkan para pejabat dan kalangan pers sendiri pun – yang mestinya lebih mengerti – masih ada yang kurang faham mengenai makna dan pengertrian kebebasan pers yang sesungguhnya. Oleh karena mengemban tugas luhur dan mulia itulah, pers yang bebas juga harus memiliki tanggung jawab – yang dirumuskan dalam naskah Kode Etik Jurnalistik atau Kode Etik Wartawan Indonesia sebagai “bebas dan bertanggung jawab.” Belakangan, pengertian “bebas” menjadi kabur – terutama di zaman pemerintahan Presiden Soeharto — gara-gara sikap pemerintah yang sangat represif, sementara pengertian “bertanggung jawab” dimaknai sebagai “bertanggung jawab kepada pemerintah.” Padahal, yang dimaksud dengan bebas ialah bebas dalam mengakses informasi yang terbuka; sementara yang dimaksud dengan bertanggung jawab ialah bertangung jawab kepada publik, kebenaran, hukum, common sense, akal sehat.
Sayang, belakangan pers sendiri kurang memahami makna “kebebasan pers” sehingga sebagian di antara ribuan penerbitan (yang sudah tak lagi memerlukan izin terbit itu!) tidak lagi berperan sebagai pers yang bertanggung jawab. Ada pers yang bekerja serampangan, mulai dari praktik peliputan di lapangan, pengemasan berita, sampai pengelolaan manajemennya. Di lain pihak, publik yang menyadari akan hak-hak sipilnya mulai berani menyuarakan aspirasi mereka, termasuk memprotes, menggugat (dengan cara yang tidak semestinya – bahkan main hakim sendiri), bahkan meneror wartawan dan kantor media pers. Ini semua adalah dampak dari reformasi, ketika (sebagian) masyarakat mulai terbuka dan menyadari akan hak-hak sipilnya.
Jika kita mengidam-idamkan sebuah pers yang ideal, bagaimanakah seharusnya jati diri seorang wartawan? Meskipun wartawan boleh dikata merupakan profesi terbuka, wartawan yang baik ialah yang memahami perannya sebagaimana telah kita singgung di bagian awal makalah ini, bahwa dia adalah kepanjangan tangan atau penyambung lidah publik. Oleh karena ia mendapat amanat publik sehingga mendapat kesempatan untuk mengakses informasi secara bebas (dalam iklim pers bebas) maka ia harus bertanggung jawab kepada publik, kepada kebenaran, keadilan, kejujuran, common sense, akal sehat. Ia harus benar-benar profesional, sedapat mungkin independen, memiliki integritas yang tinggi – dan jangan lupa: berpihak kepada mereka yang lemah.
Dalam mengakses informasi ia harus obyektif, mendalaminya dari berbagai sudut yang memungkinkan, sehingga dapat memperoleh atau menggambarkan sebuah kasus secara lengkap, akurat dan obyektif. Lepas dari apakah dia mendapat gaji besar atau kecil, wartawan yang baik seharusnya profesional, independen, memiliki integritas yang tinggi. Cuma sayang sekali, banyak perusahaan pers yang “tidak sempat” menyelenggarakan inhouse training bagi wartawan dan redakturnya. Celakanya, ada juga (sebagian) wartawan yang tak mampu menulis berita yang baik. Bahkan ada yang tak faham persyaratan berita yang klasik: 5-W (who, what, when, where, why) dan 1-H (how).
Ia juga tak canggung menulis berbagai jenis berita, mulai dari straight news, breaking news sampai feature. Dengan kata lain, skill (kemampuan, keterampilan) maupun personal quality ataupun integritasnya benar-benar mumpuni. Lebih dari itu, ia punya the nose of news (kemampuan mengendus jenis berita), mana berita yang biasa-biasa saja, dan mana berita yang layak dimuat, atau bahkan eksklusif. Ia mampu melihat dengan jeli apa yang disebut news value – sebagaimana kata Charles A. Dana (1882) lebih seabad silam, “When a dog bite a man that is not a news, but when a man bites a dog that is a news” (Jika ada seokor anjing menggigit orang hal itu bukanlah berita, tapi jika ada orang menggigit anjing hal itu baru berita). Selain itu, ia mampu pula menembus sumber berita, tidak hanya melakukan wawancara yang lazim, melainkan juga mampu melakukan investigative reporting – kemudian menyajikannya sebagai feature yang mendalam, indeph reporting, indeph feature..
Kualitas kepribadian wartawan seperti itu berbanding terbalik dengan mereka yang lazim disebut sebagai “wartawan bodreks”, “wartawan amplop,” “wartawan gadungan”, “wartawan muntaber alias muncul tanpa berita”, WTS (wartawan tanpa surat kabar). Jenis “wartawan yang tersebut belakangan itu harus diwaspadai karena mereka bukanlah wartawan yang sebenarnya. Mereka sering minta uang (bahkan berani memeras) media masa dan unsur didalamnya
Dalam tugas kebijakan redaksional kali ini saya akan menganalisis pemberitaan media tentang gempa disumbar.Adanya bencana yang terjadi dinegri ini yang berturut-turut , membuat pemberitaan dimedia tefokus pada satu titik,, namun terkadang pemberitaan yang ditampilkan terkadang mengundang kontrofersi tersendiri, berita yang diulang-ulang bahkan terkesan hiperbola membuat khalayak menyaring sendiri informasi yang ada.
Namun karena kebutuhan itu sendiri membuat bahasa yang digunakan pun spontan dan tidak memperhatikan etika jurnalistik itu sendiri, karena pada dasarnya. Media massa adalah sesuatu yang dapat digunakan oleh segala bentuk komunikasi, baik komunikasi personal maupun komunikasi kelompok dan komunikasi massa (Atang Syamsuddin). Secara universal tujuannya adalah: 1).Informasi; 2).Hiburan; 3).Pendidikan; 4).Propaganda/pengaruh; dan 5).Pertanggngjawaban sosial. Sesuai perkembangannya media massa berwujud dalam media cetak (Koran, majalah, bulletin) dan media elektronik (TV, radio dan internet). Dari berbagai macam media massa tersebut mempunyai ciri khas masing-masing baik dalam isi dan pengemasan beritanya, maupun dalam tampilan serta tujuan dasarnya. Perbedaan ini di latarbelakangi oleh kepentingan yang berbeda dari masing-masing media massa. Ada yang bermotif politik, ekonomi, agama dan sebagainya. Seperti yang dikatakan oleh Bambang Harimukti bahwa media masa merupakan kumpulan banyak organisasi dan manusia dengan segala kepentingannya yang beragam, bahkan termasuk yang saling bertentangan.
Kepentingan yang beragam pada media massa adalah hal yang tidak bisa dipungkiri. Ada media massa yang memiliki kepentingan politik, karena ia didanai oleh kekuatan politik tertentu, dan media massa juga ada yang bermotifkan ekonomi, dimana keuntungan secara materil adalah satu-satunya target dari media tersebut. Ada juga media yang bermotifkan pendidikan karena ingin memberikan pengetahuan. Begitupun yang bermotifkan agama, dimana media massa didirikan oleh kelompok agama tertentu untuk menyampaikan ajaran agamanya. Kepentingan dari media massa tersebut dapat mempengaruhi berita yang disampaikan. Dari sinilah muncul sebuah anggapan bahwa fakta yang disampaikan bukanlah fakta yang objektif, melainkan fakta yang telah dikontruksi oleh media atau penulisnya/wartawan dengan latar belakang kepentingan tertentu. Dalam pandangan kaum konstruksionis, berita yang kita baca pada dasarnya adalah hasil dari konstruksi kerja jurnalistik, bukan kaidah baku jurnalistik. Semua proses kontruksi (mulai dari memilih fakta, sumber, pemakaian kata, gambar, sampai penyuntingan) memberi andil bagaimana realitas tersebut hadir dihadapan khalayak (Eriyanto, 2002).
Kalau menengok sejarah media massa di nusantara ini tentu juga tidak bisa melepaskan diri dari reformasi 98 yang selanjutnya menandai babak baru era reformasi sampai sekarang ini. Termasuk reformasi media massa yang sebelumnya pemerintah mempunyai peran kontrol dominan telah bergeser menjadi era keterbukaan yang sangat memberikan peluang kepada masyarakat untuk menjadi pengontrolnya. Sejauh mana media memberikan pesan perlu dianalisis lebih lanjut. Masyarakat sebagai sasaran pembaca, pendengar dan penonton media massa hendaknya mempunyai pisau analisa agar media menjadi jalan pencerdasan bukan sebaliknya yaitu jalan pembodohan dan penelikungan.
Perspektif Media Massa
Seiring muncul dan berkembangnya analisis terhadap media masaa, maka muncul berbagai pendekatan yang mencoba digunakan, yakni:Pendekatan pluralis. Dalam pendekatan pluralis, berita adalah cermin dan refleksi dari kenyataan. Oleh karena itu, berita heruslah sama dan sebangun dengan fakta yang hendak diliput. Sedangkan posisi media sendiri merupakan sarana yang bebas dan netral tempat semua kelompok masyarakat saling berdiskusi yang tidak dominan. Senada dengan pendekatan ini adalah pendekatan positivis. Menurut pendekatan ini media merupakan saluran pesan. Ada fakta riil yang diatur oleh kaidah-kaidah tertentu yang berlaku universal. Berita adalah cermin dan refleksi dari kenyataan, karena itu, berita haruslah sama dan sebangun dengan fakta yang hendak diliput
Bertolak dari pendekatan tersebut adalah pendekatan kritis. Menurut pendekatan ini berita tidak mungkin merupakan cermin dan refleksi dari realitas, karena berita yang terbentuk hanya cermin dari kepentingan kekuatan dominan. Sedangkan media sesungguhnya bukan milik publik, tetapi dikuasai oleh kelompok dominan dan menjadi sarana untuk memojokan kelompok lain, sehingga sulit untuk berdiri secara netral dan independent. Pendekatan selanjutnya adalah pendekatan konstruksionis. Menurut konstruksionis, media merupakan agen konstruksi pesan. Fakta yang ada dalam media tiada lain merupakan konstruksi atas realitas. Kebenaran suatu fakta bersifat relatif, berlaku sesuai konteks tertentu. Berita tidak mungkin merupakan cermin dan refleksi dari realitas. Karena berita yang terbentuk merupakan konstruksi atas realitas.
Kebebasan pers
Kebebasan pers adalah bagian dari hak asasi manusia. UUD 45 pasal 28 berbunyi: “Setiap orang berhak berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.” Jadi pengertiannya luas sekali. Meski begitu kita juga pernah mengalami penindasan, kecurigaan, dan alasan-alasan lain yang terlalu jelas. Intinya: pers dibungkam. Jadi isunya adalah soal kebebasan pers dan mendapatkan informasi. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan kebebasan pers dan mendapatkan informasi itu?
Dalam kondisi seperti itulah dibutuhkan pers yang secara bebas dapat mewakili publik untuk mengakses informasi. Dari sinilah bermula apa yang disebut “pers bebas” (free press) atau “kebebasan pers” (freedom of the press) sebagai syarat mutlak bagi sebuah negara yang demokratis dan terbuka. Begitu pentingnya freedom of the press tersebut, sehingga Thomas Jefferson, presiden ketiga Amerika Serikat (1743 – 1826), pada tahun 1802 menulis, “Seandainya saya diminta memutuskan antara pemerintah tanpa pers, atau pers tanpa pemerintah, maka tanpa ragu sedikit pun saya akan memilih yang kedua.” Padahal, selama memerintah ia tak jarang mendapat perlakuan buruk dari pers AS
Untuk pertama kalinya dalam sejarah pers Indonesia, kebebasan pers baru diakui secara konstitusional setelah 54 tahun Indonesia merdeka secara politik, yaitu dalam UU Nomor 40/1999 tentang Pers. Meskipun demikian, pengertian kebebasan pers belum dimengerti secara merata oleh publik Indonesia. Bahkan para pejabat dan kalangan pers sendiri pun – yang mestinya lebih mengerti – masih ada yang kurang faham mengenai makna dan pengertrian kebebasan pers yang sesungguhnya. Oleh karena mengemban tugas luhur dan mulia itulah, pers yang bebas juga harus memiliki tanggung jawab – yang dirumuskan dalam naskah Kode Etik Jurnalistik atau Kode Etik Wartawan Indonesia sebagai “bebas dan bertanggung jawab.” Belakangan, pengertian “bebas” menjadi kabur – terutama di zaman pemerintahan Presiden Soeharto — gara-gara sikap pemerintah yang sangat represif, sementara pengertian “bertanggung jawab” dimaknai sebagai “bertanggung jawab kepada pemerintah.” Padahal, yang dimaksud dengan bebas ialah bebas dalam mengakses informasi yang terbuka; sementara yang dimaksud dengan bertanggung jawab ialah bertangung jawab kepada publik, kebenaran, hukum, common sense, akal sehat.
Sayang, belakangan pers sendiri kurang memahami makna “kebebasan pers” sehingga sebagian di antara ribuan penerbitan (yang sudah tak lagi memerlukan izin terbit itu!) tidak lagi berperan sebagai pers yang bertanggung jawab. Ada pers yang bekerja serampangan, mulai dari praktik peliputan di lapangan, pengemasan berita, sampai pengelolaan manajemennya. Di lain pihak, publik yang menyadari akan hak-hak sipilnya mulai berani menyuarakan aspirasi mereka, termasuk memprotes, menggugat (dengan cara yang tidak semestinya – bahkan main hakim sendiri), bahkan meneror wartawan dan kantor media pers. Ini semua adalah dampak dari reformasi, ketika (sebagian) masyarakat mulai terbuka dan menyadari akan hak-hak sipilnya.
Jika kita mengidam-idamkan sebuah pers yang ideal, bagaimanakah seharusnya jati diri seorang wartawan? Meskipun wartawan boleh dikata merupakan profesi terbuka, wartawan yang baik ialah yang memahami perannya sebagaimana telah kita singgung di bagian awal makalah ini, bahwa dia adalah kepanjangan tangan atau penyambung lidah publik. Oleh karena ia mendapat amanat publik sehingga mendapat kesempatan untuk mengakses informasi secara bebas (dalam iklim pers bebas) maka ia harus bertanggung jawab kepada publik, kepada kebenaran, keadilan, kejujuran, common sense, akal sehat. Ia harus benar-benar profesional, sedapat mungkin independen, memiliki integritas yang tinggi – dan jangan lupa: berpihak kepada mereka yang lemah.
Dalam mengakses informasi ia harus obyektif, mendalaminya dari berbagai sudut yang memungkinkan, sehingga dapat memperoleh atau menggambarkan sebuah kasus secara lengkap, akurat dan obyektif. Lepas dari apakah dia mendapat gaji besar atau kecil, wartawan yang baik seharusnya profesional, independen, memiliki integritas yang tinggi. Cuma sayang sekali, banyak perusahaan pers yang “tidak sempat” menyelenggarakan inhouse training bagi wartawan dan redakturnya. Celakanya, ada juga (sebagian) wartawan yang tak mampu menulis berita yang baik. Bahkan ada yang tak faham persyaratan berita yang klasik: 5-W (who, what, when, where, why) dan 1-H (how).
Ia juga tak canggung menulis berbagai jenis berita, mulai dari straight news, breaking news sampai feature. Dengan kata lain, skill (kemampuan, keterampilan) maupun personal quality ataupun integritasnya benar-benar mumpuni. Lebih dari itu, ia punya the nose of news (kemampuan mengendus jenis berita), mana berita yang biasa-biasa saja, dan mana berita yang layak dimuat, atau bahkan eksklusif. Ia mampu melihat dengan jeli apa yang disebut news value – sebagaimana kata Charles A. Dana (1882) lebih seabad silam, “When a dog bite a man that is not a news, but when a man bites a dog that is a news” (Jika ada seokor anjing menggigit orang hal itu bukanlah berita, tapi jika ada orang menggigit anjing hal itu baru berita). Selain itu, ia mampu pula menembus sumber berita, tidak hanya melakukan wawancara yang lazim, melainkan juga mampu melakukan investigative reporting – kemudian menyajikannya sebagai feature yang mendalam, indeph reporting, indeph feature..
Kualitas kepribadian wartawan seperti itu berbanding terbalik dengan mereka yang lazim disebut sebagai “wartawan bodreks”, “wartawan amplop,” “wartawan gadungan”, “wartawan muntaber alias muncul tanpa berita”, WTS (wartawan tanpa surat kabar). Jenis “wartawan yang tersebut belakangan itu harus diwaspadai karena mereka bukanlah wartawan yang sebenarnya. Mereka sering minta uang (bahkan berani memeras) nara sumber. Tapi di lain pihak, inilah repotnya, juga ada nara sumber yang memberi “amplop” kepada wartawan – karena diminta, karena ingin agar namanya jangan dicemarkan, atau karena terbiasa menyogok dalam bisnis. Seharusnya wartawan (yang profesional dan memiliki integritas) merasa tersinggung m anakala disodori “amplop
Tugas Kebijakan Redaksional
“ANALISIS MEDIA TENTANG GEMPA SUMBAR”
![]() |
Disusun oleh :
Nabilla fuadillah alhumaira
2006 - 41 - 251
Fakultas ilmu komunikasi
Universitas Prof.Dr.Moestopo (beragama)
2009 - 2010
Langganan:
Komentar (Atom)







