kamu masih punya nenek atau kakek dikampung, atau tinggal beberapa blok dari rumahmu,mungkin satu rumah denganmu
mmm..masa tua,pernah membayangkan hal tersebut..sepi,sendiri, mengisi waktu dengan kebaikan dan hanya menunggu maut menjemput.
anak-anak yang dulu tinggal satu rumah kini perlahan dan satu persatu hilang dikehidupan mereka,,
hal ini mungkin yang dialami nenek dari papaku,,yang mulai senja
saat lebaran usai,aku berniat pulang tapi sebelum itu, aku ,mama, dan ade-adeku berniat mengunjungi enek(panggilan nenek dari papa) untuk meminta ijin pulang
saat itu terasa biasa karena ini sering dilakukan kalau kami ketasik,,namun ada yang berbeda saat itu,,kami sekeluarga masuk rumah nenek dan cium tangannya,dan membawakan sedikit oleh-oleh dari kebun dan balong rumah kami, lalu tanpa disangka air mata itu turun di pipi keriput nenekku,,
sambil menangis ia berkata,"nuhunnya, meni sagala wae,, duh ene gaduh naonnya, bade emam teu"(makasih ya, ngerepotin,, duh ene puya apa ya, mau makan gak)
saat itu nuraniku bicara bahkan berteriah,ada apa gerangan yang membuat gerangan ibu dari papaku ini menangis,,
lalu tak lama kami berbincang,,karena nenekku sudah mulai pikun, maka ucapannya selalu diulang-ulang,,padahal dulu ia adalah pengusaha yang cukup terkenal ditasik dengan kerudung bordirannya..yang di eksport kemana-mana
waktunya kami pulang..tapi rasanya cukup sedih meninggal kannya sendiri dan hanya ditemani bi oom(yang jaga dirumahnya)
namun karena waktu juga yang bicara, aku dan ade-adeku pun satu-persatu salam tuk izin pulang,,rasa enggan lepas dari pelukan sambil enek membisikan "ku ene didoakeun sing soleh nya"(sama ene di doain ,semoga soleh)
kaki kami beranjak ke pintu keluar, saat menengok eneku, ia menangis dan sambil berteriak"tos dibere artos teu acan?ku ene"(udah dikasih duit belum?ama ene)*nenekku ini seneng sekali bagi-bagi uang,,apa lagi saat lebaran,namun karena ia mulai pikun akhirnya uangnya dikelola oleh anak-anaknya, jadi mungkin ia pengen ngasih-ngasih tapi gak pegang uangnya
terhentak langkahku dan ade-adeku dipintu,mamaku menyuruhku kembali tuk memberitahukan bahwa kami sudah menerima uang pemberiannya(meskipun tidak), karena mamaku tidak kuat tuk kembali melihat mertuanya yang sedang menangis..
aku kembali dan membisikan dengan dekat sambil memeluk nenekku "ene,ila dan ade-ade parantos dipasihan artos ku ene tadi"(ene,ila dan ade-ade sudah dikasih uang sama ene tadi)
lalu nenek ku menjawab,"inya muhun,nya sukur atuh"(iya bener,ya udah atuh)
aku pun kembali pamit, sambil kucium kening dan pipi nenekku, dan kupeluk ia....
aku tau perasaannya saat ditinggal menantu dan cucu-cucunya,,sepi lagi dirumah cicurug
kami sekeluarga naik mobil dan menangis sambil terus mengucap"kasian ya ene, gak tega ninggalinnya"
lalu kami putuskan untuk bulan depan datang lagi berkunjung ketasik (meski tidak ada acara apa-apa) dan menginap dirumah ene, untuk menemaninya...
tangis itu masih ada..rindu ene masih ada sampai detik ini