perbedaan anatara Reporter dan jurnalis (beni)
kelas PKL malam itu cukup dipadati mahasiswa, ternyata dosen regurel kami (pak indiwan) membawa rekan kerjanya di kantor ANTARA
kami berkenalan lah dengan pak beni, stigma yang muncul saat awal perjumpaan cukup mengesankan, dia seperti membawa kami pada ruang sidang yang dipenuhi dengan ketakutan, semakin ia banyak mengeluarkan kata semakin kita tau bahwa isi dalam otaknya tersebut memiliki kualitas yang baik.
dengan perawakan kecil dan cincin emas melingkar dijari manis tangan kanannya dia memberikan ulasan sejenak tentang bagai mana to answer the question, bagaimana dia mengutarakan ketidak sukaannya terhadap orang yang tidak bisa menjawab pertanyaang, yang saya tangkap dari pembicaraannya dia mengutarakan bahwa setiap pertanyaan pasti ada jawabannya, dan itu memang saya akui.
pa indiwan hanya tersenyum kecil dibelakang sambil meminum softdrink yang ia bawa, sambil melihat murid-muridnya diserang dengan pertanyaan-pertanyaan tajam dari pak beni, sampai pada obrolan "apa perbedaan reporter dengan jurnalis?"
answer is "mereka adalah warttawan tapi berbeda kapasitasnya, reporter hanya melaporkan kejadian, sedangkan jurnalis mengolah menggali data yang ia dapatkan, " dan pak beni bilaqng "jangan pernah bangga menjadi reporter karena kalian bukan jurnalis" kata2 tersebut membuat saya terpaku dan semakin yakin bahwa profesi jurnalis bukan lah profesi sembarangan.
pa indiwan menambahkan "kita sebagai jurnalis kampus harus memberikan perbedaan dari jurnalis yang tidak mengenyam dunia akademik, etika juga aturan penulisan menjadi sebuah tuntutan sebagai control msyarakat"
2 orang ini telah membuktikan bahwa strata seorang wartawan akan lebih tinggi dibanding dengan yang lain bila kita mampu mengisi otak kita dengan wawasan dan berfikir cepat tepat dan akurat.jadi wartawan tidak dianggap sebagai alat industri (reporter bila sudah tua dan penampilan tidak seelok dulu lagi maka akan di buang) lain halnya dengan jurnalis sejati yang memiliki wawasan yang luas.
kami berkenalan lah dengan pak beni, stigma yang muncul saat awal perjumpaan cukup mengesankan, dia seperti membawa kami pada ruang sidang yang dipenuhi dengan ketakutan, semakin ia banyak mengeluarkan kata semakin kita tau bahwa isi dalam otaknya tersebut memiliki kualitas yang baik.
dengan perawakan kecil dan cincin emas melingkar dijari manis tangan kanannya dia memberikan ulasan sejenak tentang bagai mana to answer the question, bagaimana dia mengutarakan ketidak sukaannya terhadap orang yang tidak bisa menjawab pertanyaang, yang saya tangkap dari pembicaraannya dia mengutarakan bahwa setiap pertanyaan pasti ada jawabannya, dan itu memang saya akui.
pa indiwan hanya tersenyum kecil dibelakang sambil meminum softdrink yang ia bawa, sambil melihat murid-muridnya diserang dengan pertanyaan-pertanyaan tajam dari pak beni, sampai pada obrolan "apa perbedaan reporter dengan jurnalis?"
answer is "mereka adalah warttawan tapi berbeda kapasitasnya, reporter hanya melaporkan kejadian, sedangkan jurnalis mengolah menggali data yang ia dapatkan, " dan pak beni bilaqng "jangan pernah bangga menjadi reporter karena kalian bukan jurnalis" kata2 tersebut membuat saya terpaku dan semakin yakin bahwa profesi jurnalis bukan lah profesi sembarangan.
pa indiwan menambahkan "kita sebagai jurnalis kampus harus memberikan perbedaan dari jurnalis yang tidak mengenyam dunia akademik, etika juga aturan penulisan menjadi sebuah tuntutan sebagai control msyarakat"
2 orang ini telah membuktikan bahwa strata seorang wartawan akan lebih tinggi dibanding dengan yang lain bila kita mampu mengisi otak kita dengan wawasan dan berfikir cepat tepat dan akurat.jadi wartawan tidak dianggap sebagai alat industri (reporter bila sudah tua dan penampilan tidak seelok dulu lagi maka akan di buang) lain halnya dengan jurnalis sejati yang memiliki wawasan yang luas.
wah trimakasih mb, ceritanya menginspirasi ^_^